Kisah Suhemi, Guru Honorer Perintis SMKN 1 Langgam yang Tersisih Seleksi PPPK

Nov 20, 2024 - 04:39
 0  26
Kisah Suhemi, Guru Honorer Perintis SMKN 1 Langgam yang Tersisih Seleksi PPPK

RAHMADNEWS. COM | PELALAWAN – Suhemi, S.Pd.I., adalah sosok inspiratif yang telah mengabdikan hidupnya untuk dunia pendidikan di pelosok Dusun III Tasik Indah, Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Dedikasinya sebagai guru honorer dan inisiator pendirian SMK di daerah terpencil tersebut membuahkan perubahan besar, terutama dengan berdirinya SMK Negeri 1 Langgam.

Namun, kisah Suhemi tidak berakhir bahagia. Setelah bertahun-tahun menjadi penggerak utama pendidikan di daerah tertinggal, ia tidak lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Keputusan ini menjadi ironi, mengingat perjuangannya yang telah melahirkan sekolah yang menjadi dambaan masyarakat tempatan.

Perjuangan Merintis SMKN 1 Langgam

Sejak awal 2000-an, Suhemi menyaksikan banyak anak putus sekolah karena ketiadaan sekolah menengah di Desa Segati. Dengan jarak 25–60 kilometer ke sekolah terdekat dan kondisi jalan yang buruk, keluarga kurang mampu kesulitan membiayai pendidikan anak-anak mereka.

Melihat kondisi tersebut, Suhemi memulai perjuangannya dengan mendirikan Yayasan Tasik Indah pada 2008. Ia berhasil memperoleh tanah hibah dari desa, meskipun harus melalui proses panjang untuk mengubah status lahan yang termasuk dalam konsesi perusahaan. Setelah delapan tahun berjuang, izin pelepasan tanah diperoleh pada 2017.

Berbekal gotong royong masyarakat, sekolah sederhana berbahan kayu dan papan akhirnya berdiri. Pada 2018, SMK Swasta Tasik Indah resmi beroperasi, menampung siswa-siswa yang sebelumnya terancam putus sekolah. Berkat kegigihannya, status sekolah tersebut ditingkatkan menjadi negeri pada 2022, menjadi SMKN 1 Langgam.

Tersingkir Seleksi PPPK

Setelah sekolah yang dirintisnya menjadi SMKN 1 Langgam, Suhemi hanya diangkat sebagai guru honorer daerah. Dengan rekam jejaknya, ia berharap dapat lolos seleksi PPPK, tetapi realitas berkata lain. Tanpa kejelasan alasan, Suhemi tidak lolos, meskipun ia merasa layak dengan dedikasi dan kontribusinya yang luar biasa.

“Saya berharap pemerintah memprioritaskan guru yang sudah lama mengabdi, terutama di pelosok. Semoga ini menjadi perhatian Pj. Gubernur,” ujar Suhemi penuh harap.

Refleksi dan Harapan

Kisah Suhemi mencerminkan dilema pengabdian tanpa penghargaan yang layak. Pengorbanannya menjadi bukti nyata bahwa dedikasi seorang pendidik mampu mengubah masa depan banyak anak. Namun, ketidakadilan dalam pengangkatan guru PPPK memperlihatkan perlunya evaluasi kebijakan agar perjuangan seperti yang dilakukan Suhemi tidak sia-sia.

Semoga pemerintah mendengar harapan ini, agar guru-guru seperti Suhemi tidak hanya dikenang karena jasanya, tetapi juga mendapat penghargaan yang layak atas pengabdiannya.**

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow