Iran Gempur Israel: Runtuhnya Dominasi Udara Dan Uji Ketahanan Teknologi Militer

Jun 20, 2025 - 01:35
 0  65
Iran Gempur Israel: Runtuhnya Dominasi Udara Dan Uji Ketahanan Teknologi Militer
Kejutan besar terjadi ketika sejumlah rudal balistik Iran mampu menembus sistem pertahanan udara canggih Israel, termasuk Iron Dome dan Arrow, yang selama ini dianggap sebagai perisai paling tangguh di dunia

RAHMADNEWS.COM | JAKARTA - Dalam sebuah babak baru konflik yang memanas di Timur Tengah, Iran berhasil mengguncang dominasi udara Israel melalui serangan balasan pada 13 Juni lalu. Kejutan besar terjadi ketika sejumlah rudal balistik Iran mampu menembus sistem pertahanan udara canggih Israel, termasuk Iron Dome dan Arrow, yang selama ini dianggap sebagai perisai paling tangguh di dunia.

Beberapa rudal dilaporkan jatuh di wilayah permukiman Israel bagian tengah, menimbulkan kerusakan signifikan. Salah satu lokasi yang terdampak adalah Kompleks Militer Kirya di Tel Aviv, markas besar militer dan pusat kendali strategis Israel, meskipun dampaknya disebut masih terbatas.

Pusat Mossad Jadi Sasaran

Iran mengklaim serangan mereka menargetkan pusat intelijen dan operasi Mossad, memunculkan pertanyaan besar: bagaimana senjata Iran bisa menembus lapisan pertahanan Israel yang begitu ketat?

Beberapa analis menilai Iran mengandalkan taktik “overload” atau pembanjiran rudal dalam satu waktu. Strategi ini bertujuan menguras cadangan rudal pencegat Israel, membuat sistemnya kewalahan.

"Tidak ada sistem pertahanan udara di dunia yang mampu menghadang 100% rudal yang datang bersamaan. Kelelahan sistem dan keterbatasan stok pencegat adalah kelemahan utama," ujar Dr. Marina Miron, peneliti pascadoktoral dari King's College London.

Media Israel bahkan mengungkapkan bahwa biaya operasional harian sistem pertahanan ini mencapai US$285 juta (sekitar Rp 4,6 triliun), dan ketahanan sistem bisa runtuh dalam hitungan hari jika tekanan Iran berlanjut.

Kejutan dari Langit: Rudal Hipersonik dan HGV

Salah satu senjata andalan Iran adalah rudal hipersonik dan wahana luncur hipersonik (HGV) seperti Fattah-2. Berbeda dari rudal balistik konvensional, rudal hipersonik melaju di atas Mach 5 dan mampu bermanuver secara tidak terduga.

"HGV dapat bergerak zig-zag, berubah arah, dan tidak menempuh jalur balistik biasa. Ini membuat radar dan sistem pencegat sulit mengantisipasi," terang Alex Gatopoulos, editor pertahanan Al Jazeera.

Rudal ini memberikan waktu reaksi yang sangat singkat bagi sistem pertahanan udara Israel, membuat efektivitas Iron Dome dan Arrow terguncang.

Serangan Diam-diam: Rudal Jelajah Terbang Rendah

Iran juga mengerahkan rudal jelajah Hoveyzeh, yang meluncur rendah seperti drone. Meski lebih lambat, rudal ini mampu menyelinap di bawah cakupan radar.

"Rudal jelajah seperti ini sulit terdeteksi, bisa mengubah arah mendadak, dan tidak memberi sinyal kuat di radar," tambah Dr. Miron.

Gabungan ketiga jenis rudal ini — balistik, hipersonik, dan jelajah — membuat pertahanan Israel diuji dalam berbagai lapisan serangan.

Pertempuran ini tidak hanya soal teknologi, tapi juga soal ketahanan militer dan logistik. Jarak geografis antara Iran dan Israel yang mencapai 1.000 kilometer menyulitkan operasi udara.

"Pesawat tempur Israel perlu pengisian bahan bakar di udara jika ingin menyerang Iran, dan itu mengurangi efektivitas serta kemampuan siluman mereka," ujar Gatopoulos.

Hal ini membuat kedua negara lebih mengandalkan rudal dan drone jarak jauh ketimbang misi udara langsung.

Menurut laporan resmi, Israel telah menewaskan lebih dari 240 orang di Iran, termasuk 70 wanita dan anak-anak. Sebaliknya, Iran telah meluncurkan lebih dari 400 rudal dan ratusan drone, menewaskan 24 warga Israel dan melukai ratusan lainnya.

Kini, dunia menyaksikan perang stamina antara dua kekuatan regional. Siapa yang lebih dulu kehabisan amunisi, siapa yang lebih efektif dalam strategi pertahanan dan serangan — semua akan menentukan arah konflik ini ke depan.

Ketika Iron Dome tak lagi bisa menjamin perlindungan total dan rudal-rudal Iran semakin canggih, pertanyaan besar pun muncul: apakah ini awal dari pergeseran kekuatan militer di Timur Tengah. **

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow