COVID-19 Kembali Muncul di Jakarta, Pemerintah Serukan Kewaspadaan

Jun 4, 2025 - 00:35
 0  87
COVID-19 Kembali Muncul di Jakarta, Pemerintah Serukan Kewaspadaan
Konferensi pers Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, di Gedung Pramuka Kwartil, Jakarta Pusat, Selasa (3/6/2025)

RAHMADNEWS. COM | JAKARTA – Setelah beberapa bulan mereda, kasus COVID-19 kembali terdeteksi di wilayah DKI Jakarta. Pemerintah pusat melalui Istana Kepresidenan menyerukan peningkatan kewaspadaan publik menyusul munculnya 38 kasus terkonfirmasi sejak awal tahun 2025. Seruan ini muncul menyusul lonjakan kasus serupa di beberapa negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Hongkong.

Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, dalam pernyataannya di Jakarta pada Selasa (3/6/2025), menegaskan bahwa sinyal peningkatan kasus di negara lain harus menjadi peringatan dini bagi Indonesia.

"Kita sudah tahu dari pengalaman, begitu ada peningkatan di negara tetangga, kita harus segera siaga," ujarnya.

Pemerintah tidak ingin mengulang kelengahan masa lalu. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menerbitkan surat edaran kepada seluruh fasilitas layanan kesehatan sebagai bentuk langkah preventif. Surat ini mengatur kembali pemantauan gejala, pelacakan kasus, serta imbauan penggunaan masker bagi individu yang mengalami gejala mirip flu.

Menurut data yang dirilis Dinas Kesehatan DKI Jakarta, kasus COVID-19 kembali muncul secara bertahap sejak awal tahun. Rinciannya:

Januari: 25 kasus, Februari: 2 kasus, Maret: 1 kasus, April: 4 kasus, Mei: 6 kasus, Total: 38 kasus sejak Januari 2025 hingga akhir Mei.

Meski belum ada laporan kematian, peningkatan ini dinilai sebagai indikator nyata bahwa virus corona belum sepenuhnya hilang. Bahkan, berdasarkan data laboratorium pemeriksa, tingkat positivity rate mencapai 3,68 persen, yang berarti hampir 4 dari setiap 100 sampel tes menunjukkan hasil positif.

“Berdasarkan data laboratorium pemeriksa sejak Januari hingga Mei, tercatat 38 kasus positif dan tidak ada kematian,” jelas Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta, Ovi Norfiana.

Hasan Nasbi kembali menekankan bahwa peningkatan kasus ini bukan alarm palsu, melainkan peringatan nyata bagi masyarakat untuk tetap mawas diri. Pemerintah mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk kembali menerapkan pola hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat sakit, dan menghindari kerumunan jika sedang tidak sehat.

“Jangan tunggu gejala berat. Kalau merasa flu, sakit tenggorokan, atau pusing, segera periksa,” tegas Hasan.

“Ini bukan untuk menakuti. Tapi kita semua tahu, ketika lengah, dampaknya bisa besar. Jadi waspada itu wajib,” tambahnya.

Pemerintah mengimbau masyarakat tidak panik, namun tetap bertindak bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan sekitar. Kesadaran kolektif menjadi kunci untuk mencegah gelombang baru pandemi yang pernah melumpuhkan berbagai sektor kehidupan.

Sejauh ini, belum ada kebijakan pembatasan aktivitas sosial atau mobilitas masyarakat. Namun, sejumlah rumah sakit dan puskesmas telah diarahkan untuk siaga satu terhadap pasien bergejala ringan yang datang dengan keluhan flu atau demam. Selain itu, surveilans aktif juga mulai diperkuat kembali oleh Dinkes DKI bekerja sama dengan instansi terkait.

Situasi saat ini memang jauh lebih terkendali dibandingkan tahun-tahun awal pandemi, namun pemerintah tetap mewaspadai potensi mutasi virus baru atau kemungkinan munculnya subvarian yang bisa lebih menular.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow