Janji yang Tak Kunjung Tiba: Atlet Riau Peraih Medali PON dan Peparnas Masih Menanti Bonus
RAHMADNEWS.COM | PEKANBARU – Derai air mata yang dulunya jatuh karena kebanggaan dan kejayaan di arena olahraga kini berubah menjadi tetesan mengecewakan yang mendalam. Para atlet asal Riau yang telah mengukir prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI 2024 di Sumatera Utara–Aceh, dan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVII 2024 di Solo, hingga hari ini belum menerima bonus yang dijanjikan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.
Waktu terus bergulir, dan kini sudah lebih dari enam bulan sejak kompetisi berakhir. Namun, hak yang seharusnya menjadi bentuk penghargaan atas jerih payah mereka tak kunjung disalurkan. Padahal, para atlet dari berbagai cabang olahraga telah mempersembahkan medali emas, perak, dan perunggu yang mengharumkan nama Riau di kancah nasional.
Ironisnya, informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa Dana Bagi Hasil (DBH) dari pemerintah pusat telah masuk ke kas daerah. Meski demikian, belum ada kejelasan maupun transparansi dari pihak Pemprov Riau terkait realisasi bonus bagi para atlet, baik yang berada di bawah naungan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Riau maupun National Paralympic Committee (NPC) Riau.
Yang membuat persoalan ini semakin mencederai rasa keadilan adalah kenyataan bahwa janji pemberian bonus tersebut bukan sekadar ucapan spontan. Komitmen ini sebelumnya telah ditegaskan oleh Pejabat Gubernur Riau kala itu, bahkan dituangkan secara resmi dalam Peraturan Daerah (Perda) yang telah disahkan oleh DPRD Riau.
Namun kenyataannya, kenyataan tak seindah janji. Sejauh ini, tak sepeser pun dari bonus tersebut diterima oleh para atlet. Sejumlah pertemuan yang digelar oleh Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Riau bersama KONI, NPC, serta perwakilan atlet juga belum membuahkan hasil. Para atlet hanya menerima sederet pernyataan manis tanpa bukti nyata.
Kecewaan mendalam dirasakan oleh para atlet dan pemerhati olahraga di Riau. Mereka merasa telah dipermainkan oleh sistem dan diperlakukan seolah tak memiliki nilai perjuangan. Salah satu suara yang paling lantang datang dari Rahmat Handayani, pemerhati olahraga Riau dan tokoh muda yang selama ini dikenal aktif menyuarakan isu sosial dan keolahragaan.
“Mereka sudah membawa harum nama Riau di tingkat nasional, tapi malah diperlakukan seperti ini. Pemerintah terlalu sibuk dengan acara-acara seremonial, lupa dengan orang-orang yang berjuang di lapangan,” tegas Rahmat dengan nada kecewa.
Menurutnya, apa yang dituntut para atlet bukanlah kekayaan atau kemewahan, melainkan hak dasar yang sudah dijanjikan. Hak itu bukan untuk pamer, melainkan untuk dibawa pulang kepada keluarga yang telah memberi dukungan selama proses panjang pelatihan, latihan, dan kompetisi.
"Yang mereka minta itu hak mereka. Bukan untuk jadi kaya, tapi untuk dibawa pulang ke keluarga dan orang tua. Ini tentang rasa keadilan dan penghargaan," tambahnya.
Rahmat pun mendesak Pejabat Gubernur Riau yang baru, Abdul Wahid, untuk segera turun tangan menyelesaikan polemik ini. Menurutnya, pemimpin daerah harus memiliki keberpihakan yang jelas terhadap para atlet sebagai simbol semangat dan potensi generasi muda Riau.
“Jangan sampai harapan pupus mereka hanya karena janji yang tak ditepati. Bonus itu bentuk penghargaan yang seharusnya datang tepat waktu,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa keterlambatan pencairan bonus ini berdampak langsung terhadap psikologis para atlet, khususnya mereka yang masih muda. Banyak dari mereka yang kini mulai kehilangan motivasi untuk berlatih dan berkompetisi karena merasa perjuangannya tidak dihargai oleh pemerintah daerah.
Kini, bola panas ada di tangan Pemprov Riau. Masyarakat, insan olahraga, serta para pemerhati terus berkumpul dan menantikan langkah-langkah konkret. Apakah pemerintah akan membiarkan para pejuang olahraga ini terus menunggu dalam wilayahnya? Atau akankah Pemprov Riau menunjukkan komitmen moral dan politik dengan segera menunaikan hak para atlet?
Apa yang ditagih para atlet bukanlah belas kasih. Mereka hanya meminta apa yang memang dijanjikan. Dan bila janji itu tak ditepati, maka yang dikhianati bukan hanya hak, melainkan juga semangat dan kepercayaan generasi muda yang tengah dibina.
Pada akhirnya, penghargaan tersebut tidak hanya berupa medali di dada, tetapi juga tindakan nyata dari negara dan daerah. Dan untuk itu, para atlet Riau terus menanti.**
Editor : Ricky Sambari
(Redaksi/RH)
What's Your Reaction?




