Riau Masuki Puncak Musim Kemarau, 48 Titik Panas Terdeteksi oleh BMKG Pekanbaru

Jul 18, 2025 - 01:54
 0  32
Riau Masuki Puncak Musim Kemarau, 48 Titik Panas Terdeteksi oleh BMKG Pekanbaru
Ilustrasi pemadaman hutan. Istimewa

RAHMADNEWS. COM | PEKANBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru kembali mendeteksi meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Riau. Berdasarkan data citra satelit pada Jumat (18/7/2025), terpantau sebanyak 48 titik panas tersebar di sejumlah wilayah Riau.

Dengan angka tersebut, Riau menempati posisi dua teratas wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Pulau Sumatera. Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby C, menyampaikan bahwa peningkatan titik panas ini seiring dengan masuknya wilayah Sumatera, termasuk Riau, ke dalam puncak musim panas.

“Suhu udara di wilayah Riau berkisar antara 23,0 hingga 35,0 derajat Celcius dengan kelembapan udara antara 50 hingga 98 persen. Arah angin dominan dari Tenggara hingga Barat dengan kecepatan berkisar 10 hingga 30 km/jam,” ungkap Deby.

Untuk kondisi perairan, BMKG juga memprakirakan tinggi gelombang di wilayah laut Provinsi Riau tergolong rendah, yaitu sekitar 0,5 hingga 1,25 meter.

Secara keseluruhan, jumlah titik panas yang terdeteksi di Pulau Sumatera mencapai 217 titik, tersebar di berbagai provinsi. Berikut sebaran hotspot berdasarkan hasil analisis BMKG: Sumatera Selatan: 60 titik, Riau: 48 titik, Sumatera Utara: 29 titik, Sumatera Barat: 23 titik, Aceh: 21 titik, Bangka Belitung: 26 titik, Bengkulu: 4 titik, Jambi: 3 titik, Lampung: 2 titik, Kepulauan Riau: 1 titik. 

“Riau berada di urutan kedua terbanyak setelah Sumatera Selatan,” jelas Deby.

Dari total 48 titik panas di Riau, Kabupaten Rokan Hilir mencatat jumlah terbanyak dengan 41 titik. Daerah lainnya yang terpantau memiliki hotspot antara lain: Rokan Hulu: 3 titik, Kampar: 1 titik, Pelalawan: 1 titik, Indragiri Hulu: 1 titik, Kota Dumai: 1 titik. 

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa saja terjadi akibat cuaca panas yang ekstrem serta minimnya curah hujan di wilayah-wilayah rawan.

“Langkah antisipasi dan koordinasi dengan pihak terkait sangat penting agar situasi tidak berkembang menjadi bencana yang meluas,” tutup Deby.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow