Rais Hasan Piliang Kecam Tayangan “Xpose Uncensored” Trans7: Jangan Lukai Marwah Pesantren

Oct 17, 2025 - 12:05
 0  21
Rais Hasan Piliang Kecam Tayangan “Xpose Uncensored” Trans7: Jangan Lukai Marwah Pesantren

RAHMADNEWS.COM | PEKANBARU – Gelombang kecaman dan seruan boikot terhadap stasiun televisi Trans7 terus bergulir. Pemicu kontroversi itu datang dari tayangan program “Xpose Uncensored” yang dianggap melecehkan Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Menanggapi hal tersebut, Rais Hasan Piliang Dt. Bagindo Mudo, Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Alumni Pondok Pesantren Darel Hikmah (PB KAPDH), menegaskan pentingnya menjaga sensitivitas keagamaan dalam setiap konten media, khususnya televisi nasional.

“Narasi voice over dalam tayangan itu menggunakan diksi yang tidak pantas. Penyebutan santri ‘rela ngesot’ demi memberikan amplop kepada kiai, serta pernyataan bahwa seharusnya kiai yang memberi imbalan kepada santri, jelas merendahkan dan menyakiti perasaan umat Islam, khususnya keluarga besar Pesantren Lirboyo,” tegas Rais Hasan, Jumat (17/10/2025), dalam keterangannya kepada awak media.

Rais menjelaskan, penggambaran semacam itu bisa menimbulkan persepsi keliru tentang relasi guru dan murid di lingkungan pesantren. Dalam tradisi pesantren, hubungan tersebut justru dilandasi nilai ta’dzim (penghormatan) dan pengabdian yang lahir dari pemahaman terhadap ajaran dalam kitab-kitab klasik (kitab kuning).

“Ilmu dan guru adalah dua hal yang harus dihormati secara utuh. Semua tindakan santri kepada kiai merupakan pengamalan nilai-nilai luhur dalam tradisi keilmuan Islam,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Datuk Bagindo Mudo ini menegaskan bahwa lembaga penyiaran memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga sensitivitas keagamaan dan budaya. Apalagi, Indonesia adalah negara majemuk yang dibangun dari beragam agama, suku, dan budaya, termasuk peran historis kaum santri dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan serta pembentukan peradaban bangsa.

“Kebebasan berekspresi memang dijamin undang-undang, tapi kebebasan itu harus diimbangi dengan tanggung jawab dan etika. Jangan sampai digunakan untuk menyebarkan ujaran kebencian atau merendahkan keyakinan agama lain,” ujarnya.

Rais juga mengimbau agar Trans7 dan seluruh lembaga penyiaran di Indonesia lebih berhati-hati dalam menayangkan program sensitif. Ia menyarankan agar media melibatkan ahli agama atau tokoh masyarakat dalam proses produksi program yang bersinggungan dengan isu-isu keagamaan.

“Kasus ini seharusnya menjadi momentum bagi semua media untuk meningkatkan kesadaran akan tanggung jawab sosialnya. Media bukan sekadar alat hiburan, tetapi juga agen pembentuk opini publik,” kata Rais.

Polemik tayangan “Xpose Uncensored” menjadi pelajaran penting bagi industri penyiaran nasional tentang pentingnya menjaga etika, moralitas, dan sensitivitas terhadap nilai-nilai keagamaan dan budaya di masyarakat.

“Media memiliki peran besar dalam membentuk perilaku publik. Karena itu, sajikanlah konten yang mendidik, menghibur, dan menginspirasi — bukan yang memecah belah,” pungkas Rais Hasan. **

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow