Prabowo Bongkar Fakta: Belanda Rampas Kekayaan Indonesia USD31 Triliun

Jun 11, 2025 - 07:41
 0  19
Prabowo Bongkar Fakta: Belanda Rampas Kekayaan Indonesia USD31 Triliun
Presiden RI Prabowo Subianto menyebut kolonialisme Belanda telah merampas sekitar USD31 triliun selama menjajah Indonesia.

RAHMADNEWS.COM | JAKARTA — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sambutannya pada pembukaan ajang Indo Defence 2025 di Jakarta, mengungkapkan temuan mencengangkan terkait sejarah kolonialisme di Indonesia. Ia menyebut bahwa selama masa penjajahan Belanda, kekayaan Indonesia yang dirampas oleh bangsa penjajah tersebut diperkirakan mencapai USD31 triliun jika dihitung dengan nilai saat ini.

Pernyataan ini merujuk pada sebuah studi terbaru yang dirilis beberapa pekan lalu, yang mendalami besarnya kerugian ekonomi yang diderita bangsa Indonesia akibat eksploitasi kolonial selama ratusan tahun oleh pemerintah Belanda.

"Ada satu penelitian beberapa minggu lalu yang menceritakan kepada kita bahwa selama Belanda menjajah kita, Belanda telah mengambil kekayaan kita bernilai dengan uang sekarang senilai USD31 triliun," kata Presiden Prabowo di depan hadirin yang terdiri dari petinggi militer, duta besar, dan perwakilan industri pertahanan dalam dan luar negeri.

Presiden Prabowo kemudian membandingkan jumlah tersebut dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini yang berkisar pada angka USD1,5 triliun. Menurutnya, jumlah kekayaan yang dirampas tersebut setara dengan sekitar 18 kali lipat dari PDB Indonesia atau kurang lebih setara dengan 140 tahun anggaran negara.

"Sama dengan mungkin 18 kali seluruh produksi bangsa Indonesia, 18 kali GDP kita, atau sama dengan anggaran kurang lebih 140 tahun, anggaran kita 140 tahun," tambahnya.

Pernyataan ini tidak hanya menyoroti besarnya kerugian material yang ditanggung bangsa Indonesia akibat kolonialisme, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi seluruh komponen bangsa untuk menjaga kekayaan dan kedaulatan negara dengan sungguh-sungguh. Presiden Prabowo menegaskan bahwa sejarah kelam tersebut harus dijadikan pelajaran untuk tidak lengah dan tetap waspada terhadap berbagai bentuk penjajahan modern.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo juga menyampaikan sindiran tajam terhadap para penjajah yang dahulu enggan meninggalkan bumi Indonesia karena keramahan rakyatnya. Ia menyoroti sifat masyarakat Indonesia yang dikenal sangat menghormati tamu.

"Kita sangat menghormati tamu, saking hormatnya ada tamu yang ratusan tahun enggak mau pergi dari Indonesia, terpaksa kita harus bertempur," ujar Prabowo, yang disambut tawa dan tepuk tangan para hadirin.

Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan melawan penjajah yang pernah terjadi di masa lalu harus menjadi yang terakhir. Presiden mengatakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, namun tetap memiliki prinsip kuat dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan.

"Kita punya ajaran daripada nenek moyang kita: lebih baik kita mati daripada dijajah kembali," katanya penuh semangat.

Presiden Prabowo menutup pidatonya dengan menekankan bahwa Indonesia adalah bangsa merdeka yang tidak bisa dipaksa atau dikendalikan oleh negara manapun. Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa Indonesia akan tetap menjalin hubungan baik, menjunjung tinggi kerja sama, dan saling menghormati antarbangsa.

"Kita akan menghormati semua negara, kita akan bekerja sama dengan mereka, dan kita harus memberi contoh kepada semuanya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berdaulat dan bermartabat," tutupnya.

Pernyataan Presiden Prabowo ini mendapat perhatian luas dan dipandang sebagai seruan untuk meneguhkan semangat nasionalisme dan kemandirian di tengah tantangan global yang terus berkembang.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow