Timur Tengah di Ambang Perang: Serangan Israel Hantam Ladang Gas Iran

Jun 15, 2025 - 02:32
 0  64
Timur Tengah di Ambang Perang: Serangan Israel Hantam Ladang Gas Iran
Foto: Rudal yang diluncurkan dari Iran dicegat, seperti yang terlihat dari kota Ashkelon, Israel, 13 Juni 2025.

RAHMADNEWS. COM | JAKARTA - Konflik antara Israel dan Iran memasuki babak baru yang semakin mengkhawatirkan dunia. Pada Sabtu malam (14/6/2025), kedua negara saling meluncurkan rudal dan drone dalam serangan militer yang menyebabkan puluhan korban jiwa, kerusakan infrastruktur vital, serta membatalkan jalur diplomatik penting seperti perundingan nuklir Iran-AS.

Militer Israel menargetkan ladang gas South Pars di provinsi Bushehr, salah satu fasilitas energi terbesar di dunia milik Iran, memicu kebakaran dan penghentian produksi sementara. Serangan ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi Israel dari target militer ke infrastruktur ekonomi vital Iran.

Tak lama setelah serangan, Teheran membatalkan pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat yang dijadwalkan digelar di Oman pada Minggu. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan bahwa tidak mungkin ada dialog diplomatik di tengah serangan yang terus dilancarkan oleh Israel.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan peringatan keras kepada Teheran, namun tetap membuka ruang dialog jika Iran bersedia menurunkan program nuklir secara signifikan.

Laporan dari otoritas Iran menyebutkan bahwa sebanyak 78 orang tewas pada hari pertama serangan, dan jumlah itu bertambah menjadi 138 jiwa, termasuk 29 anak-anak, setelah sebuah rudal menghancurkan apartemen 14 lantai di Teheran. Di sisi lain, serangan rudal Iran ke wilayah utara Israel menyebabkan satu warga sipil tewas dan 13 orang lainnya luka-luka.

Militer Israel mengklaim serangan mereka ditujukan untuk menghalangi produksi senjata nuklir oleh Iran, sementara Iran membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai dan sipil. Namun, laporan IAEA menyatakan bahwa Iran telah melanggar Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT).

Sebagai respons, militer Iran menyatakan sedang mempertimbangkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis untuk ekspor minyak global. Ketakutan akan terganggunya suplai minyak menyebabkan harga minyak melonjak hingga 9% pada Jumat (13/6/2025), meski saat itu serangan belum menyasar sektor energi secara langsung.

Dalam pernyataannya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi ini akan berlangsung “selama beberapa minggu” dan meminta rakyat Iran untuk bangkit melawan rezim ulama. Ia menegaskan bahwa ancaman terhadap Israel harus dihapuskan.

Namun, organisasi HAM Israel, B’Tselem, mengkritik kebijakan pemerintah. “Pemerintah telah memilih jalan perang dan mengabaikan diplomasi, membahayakan stabilitas kawasan dan jutaan jiwa,” tegas pernyataan resmi mereka.

Teheran juga mengancam bahwa negara-negara sekutu Israel bisa menjadi target jika ikut serta dalam intersepsi rudal. Meski begitu, kekuatan balasan Iran dinilai berkurang karena dua proksi utama, Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon, kini dalam kondisi lemah setelah konflik lebih dari 20 bulan.

Eskalasi militer Israel-Iran kini bukan hanya menjadi persoalan dua negara, namun telah menjelma menjadi ancaman nyata terhadap keamanan kawasan Timur Tengah dan kestabilan ekonomi global. Dengan jalur diplomatik yang tertutup dan retorika perang yang mengeras, dunia menunggu langkah tegas komunitas internasional untuk menghindari konflik yang lebih besar.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow