Saat Ai Masuk Kurikulum Sekolah: Apakah Guru Masih Dibutuhkan?

May 25, 2025 - 12:15
 0  79
Saat Ai Masuk Kurikulum Sekolah: Apakah Guru Masih Dibutuhkan?
Rira Jun Fineldi – Mahasiswa Doktor Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia

RAHMADNEWS.COM | JAKARTA – Kecerdasan buatan, atau yang lebih dikenal dengan artificial intelligence (AI), tak lagi sekadar wacana futuristik. Kini, ia telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam dunia pendidikan. Di kelas-kelas modern, kehadiran AI dalam bentuk chatbot cerdas, platform pembelajaran adaptif, hingga sistem penilaian otomatis menjadi bukti bahwa gelombang digitalisasi telah benar-benar memasuki ruang-ruang belajar.

Kemajuan ini membawa efisiensi luar biasa. Bayangkan, seorang siswa kini bisa bertanya kapan saja dan langsung mendapatkan jawaban dari mesin, menyesuaikan ritme belajarnya dengan sistem yang adaptif, bahkan menerima hasil evaluasi secara instan. Namun di balik kemudahan itu, muncul pertanyaan mendasar: jika AI bisa melakukan semua itu, apa sebenarnya peran guru?

AI: Alat Bantu atau Ancaman?

Pertanyaan ini bukan tanpa alasan. Orang tua, pembuat kebijakan, bahkan para guru sendiri mulai mempertanyakan eksistensi mereka. Apakah profesi guru akan tergerus oleh mesin? Apakah ruang kelas akan berubah menjadi tempat interaksi antara siswa dan perangkat pintar semata?

Platform seperti Duolingo menjadi salah satu contoh sukses pemanfaatan AI. Menggunakan sistem cerdas, aplikasi ini menyesuaikan materi bahasa berdasarkan kemampuan dan progres pengguna. CEO Duolingo, Luis von Ahn, bahkan menyatakan bahwa sekolah di masa depan mungkin hanya berfungsi sebagai tempat penitipan anak, sementara proses belajar dilakukan sepenuhnya oleh mesin.

Pandangan ini memang memicu kekhawatiran, tetapi tidak semua pihak setuju. Penelitian yang dimuat dalam jurnal ScienceDirect pada 2024 menunjukkan bahwa mayoritas pendidik menolak gagasan bahwa guru bisa digantikan oleh AI. Mereka menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar soal menyampaikan materi, melainkan membangun relasi, menanamkan nilai, dan memahami emosi serta kebutuhan siswa secara holistik.

Dimensi Kemanusiaan yang Tak Tergantikan

Guru memiliki peran sosial dan afektif yang tidak bisa diambil alih oleh algoritma secanggih apa pun. Mereka menjadi panutan, pendamping, bahkan konselor bagi murid-muridnya. Interaksi yang terjadi antara guru dan siswa—penuh dengan empati, intuisi, dan sentuhan personal—adalah sesuatu yang belum bisa ditiru oleh mesin.

UNESCO pun menyadari tantangan ini. Organisasi internasional ini merilis AI Competency Framework for Teachers, sebuah panduan untuk membantu guru memanfaatkan AI tanpa kehilangan esensi pedagogis. Dalam kerangka ini, guru didorong untuk melek teknologi, memahami etika AI, dan memperbarui keterampilan mereka sesuai kebutuhan zaman.

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dalam laporan terbarunya juga menegaskan bahwa guru tetap merupakan aktor utama dalam membentuk keterampilan abad ke-21, seperti kreativitas, kerja sama, dan empati—kemampuan yang hanya bisa tumbuh dalam interaksi manusiawi yang otentik.

Transformasi, Bukan Penghapusan

Yang dibutuhkan bukanlah penghapusan peran guru, tetapi transformasi. Peran guru akan bergeser: dari penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran. Guru masa depan akan lebih banyak mendampingi, memberi bimbingan personal, dan mengarahkan siswa dalam menyaring dan memahami informasi yang melimpah di era digital.

Namun untuk menuju ke sana, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Mulai dari pelatihan guru, peningkatan literasi teknologi, hingga penyediaan infrastruktur yang memadai. Di Indonesia, kesenjangan digital masih menjadi tantangan. Sekolah-sekolah di perkotaan mungkin bisa langsung mengadopsi AI, tetapi di daerah terpencil, koneksi internet pun kadang masih menjadi kemewahan.

Jika tidak ditangani, ketimpangan ini bisa menciptakan jurang baru dalam dunia pendidikan. Anak-anak yang terbiasa dengan teknologi akan melaju jauh, sementara yang tertinggal akan semakin jauh tertinggal. Maka, pemerataan teknologi dan pelatihan guru harus berjalan seiring.

Kolaborasi: Kunci Pendidikan Masa Depan

Meski AI menawarkan efisiensi dan personalisasi, pendidikan tetap membutuhkan sentuhan manusia. AI bisa menjadi alat bantu yang sangat kuat, tetapi manusia tetap menjadi jiwa dari proses belajar. Oleh karena itu, menciptakan kolaborasi yang harmonis antara teknologi dan guru adalah kunci.

AI akan membantu guru dalam tugas administratif dan analitik. Sementara itu, guru akan memusatkan energi mereka pada interaksi manusiawi: membimbing, menginspirasi, dan membentuk karakter peserta didik. Untuk mewujudkan hal ini, kebijakan pendidikan harus berpihak pada guru—memberikan pelatihan, fasilitas, dan ruang untuk berinovasi.

Masa depan pendidikan bukan tentang memilih antara guru atau AI, melainkan bagaimana keduanya bisa berjalan beriringan. Teknologi dan kemanusiaan tidak harus saling meniadakan, tetapi justru saling menguatkan. Dengan sinergi yang tepat, pendidikan Indonesia akan lebih kuat, relevan, dan bermakna di era digital.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow