Harkitnas 2025: Momentum Kebangkitan Moral dan Pendidikan Anak Bangsa

May 21, 2025 - 02:34
 0  28
Harkitnas 2025: Momentum Kebangkitan Moral dan Pendidikan Anak Bangsa
Rahmat Handayani, Ketua Forum Pemimpin Redaksi (FPR)

RAHMADNEWS. COM | PEKANBARU – Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh setiap tanggal 20 Mei, tidak hanya menjadi momen mengenang sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga titik refleksi terhadap kondisi bangsa hari ini. Tahun 2025, peringatan ini terasa semakin relevan karena bangsa Indonesia dihadapkan pada tantangan yang lebih kompleks bukan lagi penjajahan fisik, melainkan penjajahan moral akibat derasnya arus digital.

Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, generasi muda Indonesia justru tengah mengalami krisis identitas. Kemudahan akses terhadap internet yang seharusnya menjadi jalan pembuka untuk ilmu pengetahuan, malah menjelma menjadi ancaman baru. Anak-anak usia dini kini lebih fasih memainkan gawai ketimbang menyanyikan lagu kebangsaan. Ironisnya, tak sedikit dari mereka yang bahkan telah terjerumus dalam praktik judi online, pergaulan bebas, hingga kehilangan semangat belajar.

Fenomena ini menjadi sinyal bahaya yang tak boleh diabaikan. Dunia pendidikan Indonesia berada di titik kritis. Peran orang tua, guru, dan tokoh masyarakat semakin terpinggirkan oleh pesona dunia maya yang seolah-olah tanpa batas. Anak-anak tak lagi mendengarkan nasihat, nilai-nilai luhur bangsa mulai memudar, dan semangat nasionalisme terkikis oleh konten-konten hiburan yang bersifat destruktif.

“Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kita bukan hanya kehilangan satu generasi, tapi bisa jadi kehilangan masa depan bangsa,” ujar Rahmat Handayani, Ketua Forum Pemimpin Redaksi (FPR) Riau dalam pernyataannya memperingati Harkitnas 2025.

Rahmat menegaskan bahwa permasalahan ini tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah pusat. Diperlukan gerakan bersama dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat RT/RW, desa dan kelurahan, hingga pemerintah kota/kabupaten dan provinsi. Pendidikan karakter dan penguatan nilai-nilai kebangsaan harus dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah, dan dilanjutkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sebagai contoh inspiratif, Rahmat menyinggung program Sekolah Barak Militer yang digagas oleh Kang Dedi Mulyadi, tokoh asal Jawa Barat. Program ini memberikan pendekatan disiplin tinggi kepada anak-anak yang dianggap sulit dibina. Melalui pendidikan berbasis kedisiplinan, nilai hormat, dan kerja keras, anak-anak yang tergabung dalam program ini berhasil mengalami perubahan signifikan—menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan memiliki arah hidup yang jelas.

“Ini bukan soal model militeristik, tetapi soal ketegasan dalam pendidikan karakter. Kita harus berani mengambil langkah tegas demi menyelamatkan anak-anak dari jerat degradasi moral,” tambah Rahmat.

Ia juga mengajak seluruh pemimpin daerah, pendidik, tokoh agama, tokoh adat, dan para orang tua untuk menjadikan Harkitnas 2025 sebagai titik balik kebangkitan pendidikan karakter anak-anak Indonesia. Momentum ini harus menjadi alarm bersama untuk segera bertindak.

“Jangan biarkan cita-cita para pendiri bangsa kita pudar di tengah arus zaman. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa generasi muda Indonesia tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tangguh, dan berguna bagi bangsa dan negara,” tegas Rahmat Handayani.

Di akhir pernyataannya, Rahmat mengajak media massa, baik cetak maupun digital, untuk memainkan peran strategis dalam menyuarakan pentingnya pendidikan karakter. Media harus menjadi pelita di tengah kegelapan informasi, bukan sekadar penyampai berita, tetapi juga penggerak perubahan sosial.

Dengan semangat kebersamaan dan gotong royong, Harkitnas 2025 diharapkan menjadi titik terang dalam perjuangan baru bangsa Indonesia perjuangan untuk membentuk generasi emas yang bermoral, berkarakter, dan berjiwa nasionalis.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow