Sentuhan Inklusif PT Patra Drilling Contractor: Dari CSR Menuju Kemandirian Difabel

Apr 20, 2026 - 16:14
 0  2
Sentuhan Inklusif PT Patra Drilling Contractor: Dari CSR Menuju Kemandirian Difabel

RAHMADNEWS. COM | JAKARTA – Menjalani kehidupan sebagai penyandang disabilitas di Indonesia masih penuh tantangan. Stigma sosial dan penilaian yang tidak adil kerap menjadi penghalang bagi kaum difabel untuk mengembangkan potensi diri dan memperoleh kesempatan yang setara di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi PT Patra Drilling Contractor (PDC). Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan ini merancang program pemberdayaan yang tidak sekadar bersifat bantuan, tetapi berorientasi pada inklusivitas, kemandirian, dan keberlanjutan bagi penyandang disabilitas.

Corporate Secretary PDC, Ani Aryani, menegaskan bahwa seluruh program dirancang berdasarkan kajian social mapping yang mendalam agar tepat sasaran.

“Bukan sekadar donasi, perusahaan melihat bahwa program yang tepat bagi masyarakat dengan disabilitas adalah yang mampu menciptakan inklusi sosial, kemandirian ekonomi, dan keberlanjutan,” ujarnya.

Menurut Ani, penyandang disabilitas memiliki potensi besar untuk berperan aktif di masyarakat. Namun, keterbatasan akses dan kesempatan membuat banyak dari mereka belum dapat mengaktualisasikan diri secara optimal.

Program CSR bagi penyandang disabilitas sebenarnya telah lama dijalankan PDC, namun dalam tiga tahun terakhir semakin digiatkan dan diperluas cakupannya. Pada 2023, PDC memulai dengan program pelatihan serta fasilitasi pembuatan SIM D bagi penyandang disabilitas di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Program tersebut diselaraskan dengan semakin terbukanya peluang kerja bagi difabel sebagai pengemudi transportasi berbasis aplikasi daring, sehingga mereka memiliki kesempatan kerja yang nyata dan mandiri.

Memasuki tahun berikutnya, PDC mengembangkan program Pelatihan Tata Boga Khusus Disabilitas di wilayah Rokan Hilir. Sebanyak 20 peserta yang terdiri dari tuna daksa, tuna grahita, dan tuna rungu mengikuti pelatihan ini dengan antusias.

Program serupa kemudian digelar di Matraman, Jakarta Timur, dengan sembilan peserta penyandang tuna rungu, tuna wicara, dan tuna grahita. Pelatihan berlangsung selama sepuluh hari di Pusat Pelatihan Kerja Daerah (PPKD) Jakarta Timur.

Selama pelatihan, peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga praktik langsung yang mencakup pengorganisasian dan penyajian makanan, kebersihan dapur, teknik dasar memasak, pembuatan roti dan produk ragi, hingga pembekalan kewirausahaan.

Kini memasuki tahun ketiga pelaksanaan, program pemberdayaan ini telah menjangkau 51 peserta penyandang disabilitas dan menunjukkan dampak nyata di lapangan.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Muhammad Haekal Senchaki (20), peserta pelatihan tata boga tahun 2025. Mahasiswa berkebutuhan khusus jurusan Desain Komunikasi Visual di salah satu perguruan tinggi swasta Jakarta ini berhasil merintis usaha kuliner bertajuk “Chaki Pizza”.

Usaha yang dijalankan Haekal berbasis sistem pre-order ini menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh dari pelatihan mampu membuka peluang ekonomi baru. Ia kini tidak hanya mampu memproduksi pizza secara mandiri, tetapi juga memasarkan produknya kepada pelanggan.

Keberhasilan Haekal menjadi bukti konkret bahwa pelatihan berbasis keterampilan yang inklusif mampu mendorong penyandang disabilitas menuju kemandirian ekonomi.

Ke depan, PDC berharap seluruh program CSR yang dijalankan benar-benar menciptakan dampak sosial yang luas, menghapus stigma terhadap difabel, serta membuka kesempatan yang setara dalam lingkungan kerja maupun kehidupan bermasyarakat.**

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow