Pertamina Patra Niaga Bangun Ekosistem Inklusif, Program Pemberdayaan Disabilitas Cetak Kemandirian dan Peluang Ekonomi Berkelanjutan
RAHMADNEWS. COM | JAKARTA – Komitmen terhadap keberlanjutan tidak hanya diwujudkan melalui penyediaan energi bagi masyarakat, tetapi juga melalui upaya menciptakan ruang yang inklusif bagi seluruh lapisan warga. Hal itulah yang terus diperkuat oleh Pertamina Patra Niaga melalui berbagai program Community Involvement & Development (CID) yang berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas di sejumlah daerah.
Sebagai perusahaan yang memiliki peran strategis dalam sektor energi nasional, Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa keberhasilan bisnis harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, perusahaan secara konsisten menghadirkan program-program yang tidak hanya bersifat bantuan sosial, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga perluasan akses kerja bagi kelompok difabel.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengatakan bahwa perusahaan berupaya memastikan seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi.
“Pertamina Patra Niaga hadir untuk semua kalangan. Melalui program CID, kami membuka peluang bagi teman-teman difabel untuk berkarya, meningkatkan kapasitas diri, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat,” ujarnya, Sabtu (20/6/2026).
Kedai Kopi Teman Istimewa, Simbol Kemandirian Penyandang Tuli
Salah satu program unggulan yang dijalankan perusahaan adalah PERINTIS (Pemberdayaan Inklusi Teman Istimewa) yang dikembangkan melalui operasional Kilang Balongan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Program tersebut diwujudkan dalam bentuk Kedai Kopi Teman Istimewa, sebuah usaha yang dikelola langsung oleh penyandang tuli. Sejak berdiri pada tahun 2023, kedai tersebut tidak hanya menjadi ruang usaha produktif, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan sosial yang memperlihatkan kemampuan penyandang disabilitas dalam mengelola bisnis secara mandiri.
Hingga kini, program tersebut telah memberikan manfaat kepada sedikitnya 155 penyandang tuli. Bahkan sepanjang tahun 2025, usaha tersebut mampu mencatatkan omzet mencapai Rp300 juta, sebuah capaian yang menunjukkan bahwa inklusi dapat berjalan beriringan dengan produktivitas ekonomi.
Lebih dari sekadar angka, keberhasilan Kedai Kopi Teman Istimewa menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya, berinovasi, dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi daerah.
Program Setara Hadirkan Inovasi Kaki Palsu Ramah Lingkungan
Komitmen serupa juga diwujudkan melalui Program Setara (Sinergi Kawan Inklusi) yang dijalankan oleh afiliasi perusahaan, PT Polytama Propindo, sejak tahun 2023.
Program ini menghadirkan inovasi Polystep, yaitu kaki palsu berbahan dasar limbah polipropilena daur ulang. Inovasi tersebut tidak hanya memberikan solusi alat bantu dengan harga yang lebih terjangkau bagi penyandang disabilitas, tetapi juga mendukung penerapan konsep ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah industri.
Hingga pertengahan 2026, Program Setara telah menjangkau 114 penerima manfaat di Kabupaten Indramayu. Selain memberikan akses terhadap alat bantu yang lebih mudah diperoleh, program tersebut juga berhasil menghasilkan pendapatan hampir Rp190 juta sepanjang tahun 2025.
Ketua Kelompok Difabel Indramayu, Suprayitno, mengungkapkan bahwa kehadiran Program Setara membawa perubahan besar bagi komunitas disabilitas di wilayahnya.
Menurut dia, sebelumnya banyak penyandang disabilitas mengalami kesulitan memperoleh alat bantu karena harga yang tinggi dan keterbatasan akses. Namun kini, mereka tidak hanya mampu membuat alat bantu sendiri, tetapi juga memperoleh keterampilan baru yang bernilai ekonomi.
“Dulu kami sering terkendala karena alat bantu sangat mahal dan sulit didapat. Sekarang kami bisa membuat sendiri, belajar, bahkan menjual hasil produksi kami. Ini bukan sekadar bantuan, tetapi bentuk pengakuan bahwa kami setara,” ujarnya.
Boyolali Jadi Contoh Pemberdayaan Tenaga Kerja Difabel
Di wilayah Jawa Tengah, Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Boyolali mengembangkan Program Difabelpreneur Kresna Patra yang berfokus pada peningkatan kompetensi dan akses kerja bagi penyandang disabilitas.
Program ini mencakup berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan menjahit, pengembangan lembaga penyalur kerja inklusif, hingga pembentukan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Inklusi Dwija Praja Amarta.
Salah satu inovasi yang lahir dari program tersebut adalah mesin jahit ramah disabilitas Jr-Difa yang dibuat dengan memanfaatkan scrap besi perusahaan. Inovasi ini bahkan telah memperoleh hak paten dan menjadi salah satu contoh penerapan teknologi tepat guna untuk mendukung produktivitas penyandang disabilitas.
Tak hanya itu, pemanfaatan limbah minyak jelantah dan botol plastik juga dikembangkan sebagai sumber pendanaan pendidikan bagi peserta PKBM inklusi, sehingga program pemberdayaan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dampak nyata dari program tersebut terlihat dari keberhasilan penyaluran tenaga kerja. Hingga saat ini, inkubasi tenaga kerja disabilitas Kresna Patra telah berhasil menempatkan 170 penyandang disabilitas di berbagai industri garmen lokal di Kabupaten Boyolali.
Keberhasilan tersebut membuka akses pekerjaan yang lebih luas sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi para penyandang disabilitas dan keluarganya.
Membangun Inklusi Melalui Energi dan Pemberdayaan
Pertamina Patra Niaga menilai bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemampuan perusahaan menciptakan dampak sosial yang nyata bagi masyarakat.
Melalui berbagai program pemberdayaan yang dijalankan di Indramayu, Boyolali, dan sejumlah wilayah lainnya, perusahaan berupaya membangun ekosistem inklusif yang memungkinkan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang sama dalam pendidikan, pekerjaan, serta pengembangan usaha.
“Pertamina Patra Niaga tidak hanya mendistribusikan energi, tetapi juga membuka peluang dan menumbuhkan kemandirian bagi masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Kami percaya keberhasilan bisnis harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan,” tutup Roberth.
Program-program tersebut menjadi bukti bahwa kolaborasi antara dunia usaha dan masyarakat mampu menciptakan perubahan sosial yang signifikan. Di tengah upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, keberpihakan terhadap kelompok rentan dan penyandang disabilitas menjadi langkah penting dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan.**
What's Your Reaction?




