Ngabuburit Bergerak! Komunitas Salsa Jakarta Pilih Berdansa Di Bulan Ramadan, Sehat Dan Penuh Silaturahmi
RAHMADNEWS.COM | JAKARTA – Menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit biasanya identik dengan berburu takjil di pinggir jalan atau sekadar bersantai bersama keluarga. Namun, pemandangan berbeda terlihat di Ibu Kota pada Minggu (22/2/2026). Di tengah suasana Ramadan yang khusyuk, ratusan anggota komunitas tari Salsa justru memilih tetap aktif bergerak, memadukan olahraga dansa dengan hangatnya silaturahmi.
Sekitar 100 peserta dari berbagai kalangan usia memadati lokasi kegiatan. Mereka tak sekadar datang untuk menari, tetapi juga membuktikan bahwa ibadah puasa bukanlah penghalang untuk tetap produktif, menjaga kebugaran tubuh, dan mempererat relasi sosial.
Kegiatan ini menjadi warna tersendiri di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Saat sebagian orang memilih beristirahat menunggu azan Magrib, para pecinta musik dan tarian Amerika Latin ini justru memanfaatkan momen Ramadan sebagai ajang memperkuat semangat kebersamaan.
Bukan Sekadar Hobi, Salsa Kaya Manfaat Kesehatan
Tarian Salsa yang enerjik bukan hanya soal estetika gerakan dan keluwesan tubuh. Di balik irama musik yang menghentak, Salsa merupakan bentuk latihan kardio yang efektif dan menyenangkan.
Sejumlah pakar kesehatan menyebutkan bahwa gerakan Salsa yang cepat dan berpola mampu meningkatkan detak jantung secara stabil. Aktivitas ini membantu memperkuat otot jantung sekaligus melancarkan peredaran darah.
Dalam satu sesi berdurasi satu jam, menari Salsa bahkan dapat membakar sekitar 300 hingga 500 kalori—setara dengan olahraga lari ringan atau bersepeda. Tak heran jika banyak pelakunya merasakan manfaat signifikan terhadap penurunan berat badan dan pembentukan tubuh.
Selain itu, pola langkah kaki yang kompleks dan koordinasi dengan pasangan turut melatih keseimbangan serta sinkronisasi antara otak dan otot. Dampaknya, postur tubuh menjadi lebih baik dan refleks semakin terasah.
Tak kalah penting, musik latin yang ceria juga berperan dalam menjaga kesehatan mental. Irama yang riang memicu pelepasan hormon endorfin, yang dikenal sebagai “hormon bahagia”, sehingga efektif mengurangi stres dan kecemasan setelah menjalani aktivitas harian.
Energi Musik Bangkitkan Semangat Ramadan
Meski tengah menjalankan ibadah puasa, antusiasme para peserta tak surut. Pesertanya pun beragam, mulai dari anak muda, pekerja kantoran, hingga pasangan lansia yang tetap lincah mengikuti irama.
Salah satu penari sekaligus penyanyi yang hadir, Ryan Latino, mengungkapkan bahwa kecintaan terhadap musik menjadi kunci utama semangat mereka.
“Sejujurnya tidak ada halangan saat bulan puasa. Setelah kita dengar musik, rasanya energi bangkit sendiri secara otomatis. Karena kita enjoy, kita jadi lupa rasa lelah setelah berbuka,” ujarnya dengan gaya ikonik berkacamata dan topi khasnya.
Ryan menambahkan, komunitas Salsa menjadi alternatif dari rutinitas olahraga konvensional yang kerap terasa membosankan.
“Dulu saya nge-gym, tapi lama-lama bosan. Di dansa, kita bertemu banyak orang berbeda dan ada musik yang bikin semangat. Jadi bukan cuma olahraga, tapi juga bersosialisasi,” katanya.
Menjaga Tempo, Tantangan Pengiring Musik
Keseruan acara ini tak lepas dari iringan musik live dari Jakarta Precious Salsa Band. Band spesialis pengiring dansa ini memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga tempo agar para penari dapat bergerak selaras.
Personelnya, Randy Santa Maria, menjelaskan bahwa bermain musik untuk pedansa Salsa membutuhkan konsistensi ritme dan kepekaan tinggi terhadap gerakan kaki penari.
“Kami fokus sekali pada tempo kaki pedansa. Kalau salah sedikit saja, bisa langsung terasa. Mereka sangat peka. Tantangannya juga harus terus update lagu-lagu Amerika Latin yang mungkin belum begitu populer di sini. Tapi karena ini passion, kami bahagia bisa mengiringi orang berdansa,” ujarnya.
Menurut Randy, menjaga keseimbangan antara teknik dan energi panggung menjadi kunci agar suasana tetap hidup tanpa mengganggu kenyamanan penari.
Jadwal Khusus Ramadan 2026
Selama bulan Ramadan 2026, kegiatan sosial dan kelas dansa ini rutin digelar setiap hari Minggu. Jadwal khusus dimulai pukul 19.00 WIB hingga 23.30 WIB, sehingga para anggota dapat berbuka puasa dan beristirahat sejenak sebelum memulai sesi dansa.
Penyesuaian waktu ini dilakukan untuk memastikan para peserta tetap memiliki energi maksimal dan dapat menikmati setiap gerakan tanpa merasa kelelahan.
Tren Gaya Hidup Sehat yang Kian Diminati
Memasuki awal tahun 2026, tren komunitas berbasis hobi seperti Salsa menunjukkan peningkatan minat di kalangan warga Jakarta. Di tengah padatnya aktivitas kota dan tekanan pekerjaan, masyarakat mulai mencari alternatif gaya hidup sehat yang tidak monoton.
Salsa menawarkan kombinasi lengkap: olahraga, hiburan, relasi sosial, hingga terapi mental. Ramadan pun menjadi momentum untuk menunjukkan bahwa aktivitas positif dapat berjalan beriringan dengan ibadah.
Komunitas ini membuktikan bahwa ngabuburit tak melulu soal menunggu waktu, melainkan bagaimana mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat, menyenangkan, dan mempererat kebersamaan. Di Jakarta, Ramadan tahun ini bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga tentang bergerak, bergembira, dan tetap sehat bersama.**
What's Your Reaction?




