Mapak 1 Suro di Bumi Lancang Kuning, IKJR Riau Satukan Spiritualitas dan Pelestarian Budaya Jawa
RAHMADNEWS. COM | PEKANBARU – Suasana khidmat berpadu dengan semarak budaya mewarnai Sekretariat DPP Ikatan Keluarga Jawa Riau (IKJR) di Gedung Amarta Puri, Jalan Soekarno Hatta, Pekanbaru, Senin (15/6/2026) malam. Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah yang bertepatan dengan malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa, DPP IKJR menggelar Gelar Budaya Mapak 1 Suro sebagai momentum memperkuat spiritualitas, mempererat persaudaraan, sekaligus melestarikan warisan budaya Jawa di Tanah Melayu.
Kegiatan yang berlangsung hingga dini hari tersebut dihadiri ribuan warga Jawa dari berbagai daerah di Provinsi Riau. Sebanyak 26 perwakilan paguyuban yang tergabung dalam IKJR turut hadir memeriahkan acara, termasuk 19 paguyuban kesenian jaranan atau kuda lumping yang menjadi bagian penting dalam pelestarian budaya Jawa di Bumi Lancang Kuning.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengajian, doa akhir tahun, doa awal tahun, serta refleksi menyambut pergantian tahun Hijriah. Suasana semakin semarak saat digelar pertunjukan seni tradisional jaranan yang menjadi magnet bagi masyarakat yang hadir.
Ketua Panitia Gelar Budaya DPP IKJR, Gigih Krisnanto, didampingi Sekretaris Panitia Ari Setiyadi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda rutin organisasi yang dilaksanakan secara gotong royong oleh seluruh anggota IKJR.
Menurutnya, semangat kebersamaan menjadi ruh utama penyelenggaraan kegiatan tersebut. Para anggota dari berbagai paguyuban bahu-membahu mempersiapkan acara sebagai wujud persaudaraan sesama perantau Jawa yang hidup dan berkembang di Provinsi Riau.
“Kegiatan ini dihadiri oleh 26 perwakilan paguyuban Jawa yang tergabung dalam IKJR. Selain itu, acara juga dimeriahkan penampilan dua kelompok kuda lumping dari 19 paguyuban jaranan yang selama ini aktif membina dan melestarikan kesenian tradisional Jawa,” ujar Gigih dalam laporannya.
Ia menjelaskan, penampilan budaya malam itu menghadirkan kolaborasi antara Paguyuban Turonggo Manis Budoyo yang dipimpin Bopo Wahyu Suseno dengan Putro Singo Budoyo di bawah pimpinan Bopo Prayitno.
Tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk mempromosikan berbagai produk lokal. Sejumlah stan UMKM terlihat ramai dikunjungi pengunjung yang datang dari berbagai wilayah.
“Kami sengaja melibatkan pelaku UMKM agar kegiatan budaya ini juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP IKJR, Drs. H. Kampriwoto, dalam sambutannya mengapresiasi seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut. Ia mengajak seluruh keluarga besar IKJR untuk menjadikan momentum pergantian tahun sebagai sarana introspeksi diri dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.
Menurut Kampriwoto, malam 1 Suro atau 1 Muharam bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Jawa.
“Kegiatan mapak malam 1 Suro atau 1 Muharam harus dimaknai sebagai upaya mawas diri agar kita tetap eling lan waspada dengan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Tahun 1447 Hijriah telah kita tinggalkan dan kini kita memasuki tahun 1448 Hijriah. Mari kita introspeksi diri terhadap perjalanan yang telah dilalui dan memperbaiki segala kekurangan untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesinambungan budaya Jawa di tengah kehidupan masyarakat yang semakin modern dan heterogen.
Menurutnya, tradisi budaya tidak boleh ditinggalkan karena di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang relevan untuk kehidupan bermasyarakat saat ini.
“Kita berkumpul untuk nyambung roso dan nguri-nguri budoyo Jowo. Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita bersama agar budaya leluhur tidak luntur dimakan zaman,” ujarnya.
Kampriwoto juga menyoroti kesenian jaranan yang selama ini sering dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan. Padahal, menurutnya, jaranan mengandung filosofi kehidupan yang sangat kuat, terutama mengenai gotong royong, solidaritas, kekompakan, dan kebersamaan.
“Mungkin ada yang memandang jaranan sebagai kesenian rakyat biasa atau kesenian pinggiran. Namun jika dipahami secara mendalam, di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong dan semangat persatuan yang sangat penting dalam kehidupan sosial. Kami berterima kasih kepada para penggiat seni yang tetap istiqamah menjaga dan melestarikan budaya adiluhung Jawa di Bumi Lancang Kuning,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Kasepuhan DPP IKJR, KRT H. Suryadi Khusaini, S.Sos., MM, mengajak seluruh jajaran pengurus IKJR mulai dari tingkat DPP, DPD, DPC hingga ranting untuk menjadikan pelestarian budaya Jawa sebagai program berkelanjutan.
Menurut mantan Anggota DPRD Riau tersebut, generasi muda harus mendapatkan ruang untuk mengenal, memahami, dan mencintai budaya leluhurnya agar identitas budaya tidak hilang di masa depan.
“Agar menjadi program bersama mulai dari DPP sampai ranting untuk membina kesenian tradisional Jawa dan melestarikan budaya Jawa. Namun kita juga harus memahami filosofi di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Kita hidup di Riau, maka budaya Melayu juga harus dihormati dan diamalkan tanpa kehilangan identitas Kejawaan kita,” ungkapnya.
Suryadi menegaskan bahwa pelestarian budaya menjadi tanggung jawab lintas generasi. Ia berharap anak cucu masyarakat Jawa di perantauan tetap mengenal akar budayanya dan tidak merasa asing terhadap identitasnya sendiri.
“Jangan sampai tiga generasi ke depan tidak lagi mengenal budaya Jawa, bahkan malu mengakui jati dirinya sebagai orang Jawa. Malam 1 Suro adalah bagian dari perjalanan spiritual yang telah diwariskan sejak era Mataram Kuno, Mataram Islam, Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran hingga Pakualaman. Warisan ini harus kita jaga bersama,” katanya.
Menurutnya, kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan tersebut bukan hanya sebatas berkumpul dan meramaikan acara, melainkan juga menjadi sarana memperkuat ikatan emosional sesama warga Jawa.
“Kita hadir bukan hanya untuk rame-rame, tetapi untuk nyambung tuwuh, nyambung roso, dan manunggal jati sebagai orang Jawa,” ujarnya.
Menjelang pergantian hari, tepat mendekati tengah malam, seluruh peserta mengikuti munajat dan doa bersama yang dipimpin sesepuh IKJR, Mbah Katiran atau yang akrab disapa Mbah Jagung. Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, doa dipanjatkan agar tahun baru 1448 Hijriah membawa keberkahan, keselamatan, dan kemaslahatan bagi masyarakat Jawa maupun seluruh masyarakat Riau.
Doa-doa yang dipanjatkan menjadi penutup rangkaian kegiatan spiritual sebelum masyarakat kembali menikmati pertunjukan budaya yang berlangsung hingga pukul 02.00 WIB.
Acara tersebut turut dihadiri jajaran pendiri dan deklarator IKJR, di antaranya Zaini, H. Sudirjo, Sugeng Pranoto, Darmo, Nur Hidayat, Sulistiyono, Urip Sutriyanto, Sugiatno, Joko Suyono, Jhon Aripin, Singgih Supriyadi, Joko, Tohaji, serta Luluk Budi Prayitno.
Melalui Gelar Budaya Mapak 1 Suro ini, IKJR kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga harmoni antara nilai-nilai religius, budaya Jawa, dan semangat kebhinekaan di Provinsi Riau. Tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu ikatan persaudaraan yang kuat. (Red)
What's Your Reaction?




