Ketegangan Global Tekan Ekonomi RI: Pertumbuhan Anjlok di Bawah Target

Jun 11, 2025 - 01:51
 0  55
Ketegangan Global Tekan Ekonomi RI: Pertumbuhan Anjlok di Bawah Target
Foto : world bank

RAHMADNEWS.COM | JAKARTA - Bank Dunia secara resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam laporan terbarunya Global Economic Prospects (GEP) edisi Juni 2025. Di tengah bayang-bayang perlambatan ekonomi global akibat ketegangan geopolitik dan perang dagang, lembaga keuangan internasional ini memperkirakan ekonomi Indonesia hanya mampu tumbuh sebesar 4,7% pada 2025 dan 4,8% pada 2026.

Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan prediksi sebelumnya dalam GEP edisi Januari 2025 yang menempatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada angka 5,1% untuk tahun 2025 dan 2026. Artinya, Indonesia diperkirakan tidak akan lagi mencatatkan pertumbuhan ekonomi di atas 5% hingga setidaknya 2027, jauh dari realisasi pertumbuhan pada 2022 yang sempat mencapai 5,3%.

Bank Dunia menilai bahwa revisi proyeksi ini tak lepas dari dinamika ketegangan perdagangan global yang kian memburuk. Dalam siaran pers yang dirilis Rabu (11/6/2025), lembaga tersebut menyatakan bahwa perang tarif tinggi, ketidakpastian kebijakan ekonomi, serta perlambatan investasi global telah menekan pertumbuhan di hampir 70% negara di dunia—termasuk Indonesia.

"Ketegangan perdagangan yang meningkat dan ketidakpastian kebijakan diperkirakan akan menyebabkan pertumbuhan global menurun pada tahun ini ke laju paling lambat sejak 2008, di luar saat-saat kondisi resesi global," demikian pernyataan resmi Bank Dunia.

Tak hanya Indonesia, Bank Dunia juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global. Diperkirakan, ekonomi dunia hanya tumbuh 2,3% pada 2025 dan 2,4% pada 2026, lebih rendah dibandingkan prediksi sebelumnya sebesar 2,7% untuk masing-masing tahun. Angka ini juga menurun drastis dari realisasi pertumbuhan global pada 2022 yang berada di level 3,3%, dan 2023-2024 yang rata-rata 2,8%.

Kendati demikian, Bank Dunia menegaskan bahwa situasi saat ini belum akan mengarah pada resesi global, meskipun tren pertumbuhan yang lamban ini mengkhawatirkan. Jika proyeksi tersebut menjadi kenyataan, maka pertumbuhan ekonomi global dalam tujuh tahun pertama dekade 2020-an akan menjadi yang paling lambat sejak 1960-an.

Indermit Gill, Kepala Ekonom Grup Bank Dunia, turut menyuarakan keprihatinannya terhadap nasib negara-negara berkembang, khususnya di luar Asia. Ia menekankan bahwa perlambatan ekonomi yang berkepanjangan telah mengubah sebagian besar dunia berkembang menjadi “zona tanpa pembangunan”, di mana pertumbuhan tak lagi mampu mendongkrak penciptaan lapangan kerja, menekan angka kemiskinan ekstrem, atau mempersempit kesenjangan pendapatan dengan negara-negara maju.

“Pertumbuhan di negara berkembang telah turun dari 6% di era 2000-an menjadi 5% di 2010-an, dan kini di bawah 4% pada 2020-an. Perdagangan global pun menurun tajam, begitu pula dengan investasi, sementara utang justru berada di titik tertinggi sepanjang sejarah,” jelas Gill.

Untuk mencegah skenario ekonomi suram tersebut, Bank Dunia mengusulkan agar negara-negara ekonomi utama segera menurunkan ketegangan perdagangan. Penyelesaian konflik dagang, khususnya jika mampu memangkas tarif global hingga separuh dari level akhir Mei 2025, diyakini akan meningkatkan pertumbuhan global rata-rata 0,2 persen poin selama dua tahun ke depan.

"Upaya untuk mengurangi tarif dan memperbaiki kerja sama ekonomi internasional akan sangat penting untuk memulihkan stabilitas dan kepercayaan pasar," demikian rekomendasi Bank Dunia. 

Bagi Indonesia, pemangkasan proyeksi ini membawa implikasi serius. Pemerintah perlu mengantisipasi dampak perlambatan global ini terhadap neraca perdagangan, investasi asing langsung (FDI), dan penyerapan tenaga kerja. Di tengah upaya pemerintah menggenjot transformasi ekonomi, menjaga kepercayaan investor, dan meningkatkan konsumsi rumah tangga, tantangan ke depan akan semakin kompleks.

Ekonom domestik pun mengingatkan pentingnya kebijakan fiskal yang ekspansif namun tetap hati-hati, serta reformasi struktural untuk menjaga daya saing nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow