Darmizal: Jokowi Siap Bawa PSI Menuju Politik Baru yang Inklusif

May 19, 2025 - 12:06
 0  16
Darmizal: Jokowi Siap Bawa PSI Menuju Politik Baru yang Inklusif
Joko Widodo sedang berbincang dengan Ketua Umum Relawan Jokowi for Prabowo-Gibran (ReJO), HM Darmizal MS

RAHMADNEWS.COM | JAKARTA - Ketua Umum Relawan Jokowi for Prabowo-Gibran (ReJO), HM Darmizal MS, menyatakan keyakinannya bahwa Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), akan mampu merekonfigurasi arah politik nasional jika kelak benar-benar memimpin Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Menurut Darmizal, kepemimpinan Jokowi berpotensi besar menggeser praktik demokrasi simbolik menjadi politik solidaritas yang lebih inklusif dan substantif.

Pernyataan ini disampaikan Darmizal saat menjawab pertanyaan wartawan pada Senin, 19 Mei 2025, di Jakarta. Ia menanggapi spekulasi publik yang menyebut nama Jokowi sebagai calon kuat Ketua Umum PSI ke depan.

“Jika Jokowi memimpin PSI, maka akan terjadi pergeseran besar dalam lanskap politik kita. Dari politik simbolik yang selama ini hanya berputar pada citra dan ritual demokrasi, ke arah politik solidaritas yang berbasis pada empati, keterlibatan komunitas, dan hasil konkret bagi rakyat,” ujar Darmizal.

Ia menguraikan sembilan alasan yang menurutnya menjadi landasan kuat mengapa Jokowi layak dan cocok menjadi pemimpin PSI:

1. Jokowi sebagai Simbol Solidaritas Politik Kerakyatan

Menurut Darmizal, Jokowi telah membangun citra sebagai pemimpin yang mengedepankan nilai-nilai kerakyatan lewat pendekatan "blusukan", gaya sederhana, dan kedekatannya dengan masyarakat. Nilai-nilai ini, kata dia, selaras dengan DNA PSI yang berpihak kepada rakyat.

2. Jokowi sebagai Antitesis Demokrasi Simbolik

Darmizal menilai Jokowi merupakan sosok yang menolak politik penuh retorika tanpa substansi. Dalam praktiknya, Jokowi lebih memilih pendekatan pragmatis yang menekankan pada hasil dan solusi nyata. “PSI dan Jokowi bisa menjadi jawaban atas kejenuhan publik terhadap demokrasi simbolik,” tegasnya.

3. Regenerasi Politik Berbasis Nilai

PSI dikenal sebagai partai anak muda dengan semangat progresif. Dengan bergabungnya Jokowi, kata Darmizal, akan terbangun jembatan antar-generasi dalam politik, bukan sekadar suksesi figur, tapi juga pewarisan nilai dan etika kepemimpinan berbasis empati.

4. Rekonfigurasi Melampaui Politik Identitas

“Jokowi adalah bukti bahwa kepemimpinan tidak harus terjebak dalam sekat-sekat identitas. Ia mampu bekerja lintas etnis, agama, dan budaya. Kolaborasi dengan PSI akan menguatkan politik yang menjunjung inklusivitas,” jelas Darmizal.

5. Pragmatisme Politik Berbasis Moral

Jokowi selama ini menerapkan pragmatisme dengan pijakan moral. PSI sebagai partai yang anti-korupsi dan menjunjung transparansi bisa memberikan dimensi etika dalam pendekatan politik Jokowi, sehingga melahirkan politik yang efisien tapi tetap bermoral.

6. Solidaritas sebagai Basis Kebijakan Publik

Darmizal menyebut bahwa kebijakan publik Jokowi selama ini, seperti bantuan langsung dan pembangunan infrastruktur merata, merupakan contoh nyata bagaimana solidaritas dijadikan dasar kebijakan. PSI dapat melanjutkan semangat ini dengan data dan sistem yang lebih mutakhir.

7. Demokratisasi Ruang Ekonomi

“Jokowi sudah memulai konektivitas ekonomi antardaerah. PSI dapat melanjutkannya dengan agenda inklusi ekonomi, khususnya untuk anak muda dan kelompok marjinal. Ekonomi harus adil dan menjangkau semua,” paparnya.

8. Politik Berbasis Komunitas

Sebagai mantan Wali Kota dan Gubernur, Jokowi paham pentingnya kekuatan komunitas lokal. PSI yang berbasis aktivisme anak muda punya potensi besar memperkuat jejaring komunitas berbasis isu dan wilayah.

9. Redefinisi Kepemimpinan di Era Disrupsi

Era digital dan disrupsi teknologi menuntut bentuk kepemimpinan baru. Jokowi, meski dikenal konvensional, telah menunjukkan kemampuan beradaptasi. PSI, dengan DNA digital dan teknologi, diyakini bisa membantu mendefinisikan ulang kepemimpinan masa depan.

Darmizal menutup pernyataannya dengan menyebut bahwa kolaborasi antara Jokowi dan PSI akan menciptakan paradigma baru dalam politik Indonesia. “Ini bukan sekadar soal siapa yang memimpin partai, tapi tentang bagaimana membangun politik yang berpihak, terbuka, dan membumi,” pungkasnya.***

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow