Revolusi Keuangan Sunyi: Dunia Menuju Sistem Global Baru yang Lebih Efisien dan Terintegrasi
RAHMADNEWS.COM | PEKANBARU - Sebuah transformasi monumental tengah berlangsung di balik layar dunia keuangan internasional. Perubahan ini tidak disambut dengan gegap gempita atau euforia pasar, tetapi diam-diam telah mengubah fondasi sistem moneter global. Inilah yang oleh para ekonom disebut sebagai “revolusi keuangan sunyi”—sebuah pergeseran dari dominasi tunggal dolar Amerika Serikat (AS) menuju struktur keuangan yang lebih multipolar dan efisien.
Menurut pengamat ekonomi Peri Akri Domo, gejala redolarisasi atau pelepasan ketergantungan terhadap dolar AS telah menyebar luas dan tidak bisa lagi diabaikan. Didukung oleh semakin kuatnya pengaruh mata uang Tiongkok, Yuan Renminbi (RMB), serta munculnya berbagai sistem pembayaran lintas negara berbasis teknologi, dunia saat ini perlahan namun pasti membentuk poros baru dalam lanskap keuangan global.
“Lebih dari 200 negara kini telah tergabung dalam sistem pembayaran alternatif yang tidak lagi menjadikan dolar sebagai satu-satunya poros. Efisiensinya bahkan diklaim mencapai 98%, jauh melampaui sistem lama yang sarat biaya dan ketergantungan,” jelas Peri Akri dalam refleksi ekonominya.
Fenomena ini terjadi seiring dengan semakin matangnya teknologi keuangan digital, peningkatan kerjasama bilateral dan multilateral antarnegara, serta dorongan kuat dari kawasan seperti Asia, Timur Tengah, dan bahkan Afrika untuk meminimalisasi eksposur terhadap risiko geopolitik yang terkait dengan mata uang tunggal.
Lebih lanjut, Peri Akri menjelaskan bahwa tatanan ekonomi global sedang mengalami rekonstruksi besar-besaran. Jika selama beberapa dekade terakhir dunia bergantung pada sistem Bretton Woods pasca-Perang Dunia II, di mana dolar menjadi mata uang cadangan utama, maka kini sedang terjadi perubahan paradigma menuju sistem yang lebih seimbang dan kolaboratif.
“Kedigdayaan dolar mulai meredup. Ini bukan tentang siapa menang dan siapa kalah, melainkan tentang bagaimana dunia belajar untuk tidak lagi menggantungkan stabilitas pada satu mata uang dan satu negara. Ini adalah revolusi struktural yang halus namun mendalam,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa era baru ini menuntut negara-negara untuk menyesuaikan diri dengan cepat, baik dari sisi kebijakan moneter, kerjasama internasional, hingga kesiapan teknologi dalam menghadapi arsitektur keuangan yang lebih cair dan adaptif.
Dalam konteks nasional, Indonesia dinilai telah bersiap dan menunjukkan arah kebijakan yang selaras dengan dinamika global ini. Langkah-langkah Bank Indonesia dalam memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional (Local Currency Settlement/LCS) serta partisipasi aktif dalam forum-forum keuangan regional menunjukkan kesiapan Indonesia untuk menjadi bagian dari sistem baru tersebut.
“Indonesia berada di jalur yang tepat. Kebijakan luar negeri dan moneter kita semakin tanggap terhadap gelombang perubahan ini. Bravo Indonesia, InshaAllah,” kata Peri Akri, optimistis.
Menutup catatannya, Peri Akri memilih kalimat yang penuh makna namun sederhana: “Revolusi yang tidak revolusioner. Goodluck.” Sebuah pesan singkat yang mencerminkan sifat revolusi ini—tanpa sorotan berlebihan, namun berdampak besar terhadap masa depan sistem keuangan dunia.
Transformasi ini akan terus berkembang, dan masa depan akan menunjukkan siapa yang mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan mendasar ini. Dunia keuangan tak akan lagi sama, dan kita semua menjadi bagian dari sejarah itu—meski dalam keheningan.**
Editor : Ricky Sambari
(Red/RH)
What's Your Reaction?




