Pertamina Patra Niaga Ubah Sampah Jadi Sumber Daya Bernilai Ekonomi Sirkular Dorong Pengurangan Limbah
RAHMADNEWS.COM | BALIKPAPAN – Di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah dan limbah yang dihadapi berbagai daerah di Indonesia, PT Pertamina Patra Niaga terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan solusi berkelanjutan melalui penerapan ekonomi sirkular. Berbagai inovasi yang dikembangkan perusahaan berhasil mengubah material sisa yang sebelumnya dianggap tidak bernilai menjadi produk bermanfaat sekaligus sumber penghasilan bagi masyarakat.
Melalui sejumlah program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan di berbagai wilayah operasional, Pertamina Patra Niaga tidak hanya berupaya mengurangi timbulan sampah dan limbah, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mampu memberikan dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menegaskan bahwa penerapan konsep ekonomi sirkular menjadi bagian penting dari strategi perusahaan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus menciptakan nilai bersama bagi masyarakat.
“Pertamina Patra Niaga berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang mampu menjawab tantangan lingkungan sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat. Melalui pendekatan ekonomi sirkular, kami mendorong pengelolaan sampah dan limbah yang tidak hanya berfokus pada pengurangan timbulan, tetapi juga menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan,” ujar Roberth, Minggu (7/6/2026).
Salah satu program unggulan yang menjadi contoh nyata implementasi ekonomi sirkular adalah Program Community Involvement and Development (CID) Pelita Borneo atau Pengelolaan Lingkungan Terpadu Borneo yang dijalankan oleh Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan.
Program tersebut berfokus pada pengolahan sampah plastik rumah tangga yang selama ini sulit didaur ulang, seperti kemasan sachet, bungkus makanan ringan, dan berbagai jenis plastik sekali pakai. Melalui teknologi pengolahan tanpa pembakaran, sampah plastik tersebut diubah menjadi produk bernilai guna tinggi berupa roster, paving block, hingga lembaran Low Density Polyethylene (LDPE Sheet).
Pendekatan ini menjadi solusi penting dalam mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik sekaligus mencegah praktik pembakaran sampah yang berpotensi menghasilkan emisi berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan.
Tidak hanya menangani sampah anorganik, program tersebut juga mendorong pemanfaatan limbah organik rumah tangga menjadi kompos yang dapat digunakan untuk mendukung kegiatan pertanian dan penghijauan masyarakat. Sementara itu, limbah minyak jelantah yang sebelumnya berpotensi mencemari saluran air dan tanah kini diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti sabun padat, sabun cair, dan lilin.
Melalui inovasi tersebut, masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat lingkungan yang lebih bersih dan sehat, tetapi juga mendapatkan peluang usaha baru yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Sementara itu di Jawa Timur, Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Madiun mengembangkan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Bank Sampah Pesanggrahan yang terintegrasi dengan aplikasi digital Sokrosok.
Pemanfaatan teknologi digital menjadi salah satu terobosan yang mempermudah masyarakat dalam melakukan pengumpulan, pencatatan, hingga penjemputan sampah anorganik. Sistem ini juga meningkatkan transparansi administrasi dan akuntabilitas pengelolaan bank sampah sehingga mendorong partisipasi masyarakat yang lebih luas.
Sampah yang berhasil dikumpulkan tidak berhenti pada tahap pemilahan semata. Melalui Workshop 3R (Reduce, Reuse, Recycle), berbagai material bekas tersebut kembali diolah menjadi produk kreatif bernilai ekonomi seperti plakat, kipas, meja, gantungan kunci, hingga sapu plastik yang memiliki nilai jual di pasaran.
Keberhasilan program tersebut turut memperkuat Program Kampung Iklim (Proklim) Pesanggrahan yang selama ini menjadi salah satu model pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat di wilayah Madiun.
Berdasarkan data yang dihimpun, program tersebut berhasil mengurangi sampah organik hingga mencapai 16.000 kilogram dan sampah anorganik sebanyak 1.380 kilogram. Dampak positif lainnya terlihat dari penurunan emisi gas metana sekitar 2.013 kilogram per tahun serta peningkatan daya serap karbon yang mencapai 13.000 kilogram per tahun.
Kontribusi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah yang dilakukan secara sistematis tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berperan penting dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
Dari sisi ekonomi, manfaat yang dirasakan masyarakat juga cukup signifikan. Kelompok masyarakat yang terlibat dalam program berhasil mencatat peningkatan pendapatan kumulatif sebesar Rp14,6 juta. Selain itu, pemanfaatan energi surya yang dikembangkan dalam program turut menghasilkan penghematan biaya listrik sekitar Rp700 ribu setiap bulan.
Saat ini, program tersebut melibatkan sekitar 40 anggota aktif dan memberikan manfaat tidak langsung kepada lebih dari 3.000 warga yang berada di sekitar kawasan Pesanggrahan.
Salah satu tokoh penggerak Proklim Pesanggrahan, Kurnia Fidia Wati, menyampaikan bahwa keberhasilan program tidak terlepas dari sinergi yang terjalin antara masyarakat dan Pertamina Patra Niaga dalam membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
“Bersama Pertamina Patra Niaga, kami membuktikan bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi gerakan kolektif yang membawa manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat. Perubahan besar selalu berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan gotong royong,” ungkap Kurnia.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina Patra Niaga terus mempertegas perannya sebagai perusahaan energi yang tidak hanya berfokus pada aspek bisnis, tetapi juga aktif mendorong terciptanya solusi lingkungan yang berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pengurangan timbulan sampah nasional, pengelolaan limbah yang bertanggung jawab, serta pengembangan ekonomi sirkular di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan kolaborasi antara perusahaan, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, transformasi sampah menjadi sumber daya bernilai diyakini akan menjadi salah satu kunci penting dalam mewujudkan masa depan yang lebih hijau, produktif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.**
What's Your Reaction?




