PERI SANG MAHADAYA

Dec 15, 2024 - 00:26
 0  150
PERI SANG MAHADAYA

PERI AKRI bagi saya, tidak saja sebagai seorang teman. Lebih dari itu, dia adalah guru kehidupan. Hidup yang harus dijalani, penuh duka dan suka, kalah ataupun menang serta melakoni semua dengan tidak apa adanya saja. 

Peri juga, menurut saya seorang pemikir, filsuf dan kamus berjalan. Bagi wartawan seperti profesi saya, seorang Peri, jauh lebih berarti, ketimbang jutaan teman tertawa dan bersuka dan tak memahami apa-apa. Dia ikut mendalami semua hal yang saya pikirkan dan bahkan ribuan orang yang menggantungkan harapan, khususnya di Riau ini. 

Setiap pagi, dia selalu menyapa saya dengan "Salam Mahadaya". Pikiran-pikirannya sangat bernas dan memberikan saya banyak masukan yang sejauh ini tak terpikirkan oleh saya. Pikiran yang briliyan dan cerdas yang jarang dimiliki rekan-rekan saya yang lain. Bukan berarti, tak ada teman saya yang pintar dan memahami banyak hal. Tapi apa yang diutarakan Peri pada saya, langsung membuat kesan berarti yang selama ini terlupakan. 

Misalnya, satu hari Peri mengatakan; "Saatnya Riau sebagai wilayah penghasil Migas (Potensi  perkebunan sawit terluas didunia) dan EBT-nya melahirkan Dewan Energi Riau (Pengawas Migas & EBT serta turunannya) harus dimanfaatkan. Seluruh BUMD di Riau yang base fokus ke semua lini usaha energi, harus terkoordinasi dengan dewan energi Riau, yang akan menertibkan seluruh BUMD, agar tidak jalan sendiri sendiri serta optimalisasi goal dari semua BUMD, berdaya guna tinggi untuk Riau dan masyarakat."

Peri menambahkan, Riau masih menjadi prioritas dan penopang utama devisa dan ekonomi negeri ini. Karena itu, saatnya Riau berdaya dan digdaya serta masyarakat nya sejahtera. Terlalu kuat negeri ini untuk dilemahkan. Terlalu besar negeri ini untuk dikecilkan. Terlalu tinggi negeri ini untuk direndahkan.

Itu salah satu pendapat Mahadaya Peri, yang kemudian di satu kesempatan, saya diskusikan dengan Gubernur Riau saat itu, H. Syamsuar. Pak Syam menyebut, ini pikiran bernas. Lalu dia mengumpulkan para pejabat, BUMD terkait dan para pengusaha serta mereka yang terlibat dengan perminyakan dan persawitan, sesuai masukan Peri. 

Saya juga minta masukan kepada Pak Syamsuar, bagaimana kalau Peri ini dicalonkan pula menjadi calon walikota Pekanbaru pada pemilihan daerah, karena pola pikirnya yang bernas dan beda. Kata Pak Syam bagus juga jika dia berminat. Ketika pembicaraan ini saya kabarkan ke Peri, "Nantilah Bang, kita pikirkan bersama," itu jawabnya. 

Sebagai wartawan, saya memang sudah diajar kritis sejak muda. Ini pula yang ada pada diri Peri. Jadi, saya dan dia memiliki sifat yang sama dalam satu hal. Bagi saya sejak muda, sudah membangun kritisisme di kalangan mahasiswa, dunia seni, politik, sastra, ekonomi, dan lain lain sesuai profesi saya. 

Saya, dalam berbagai tulisan, memperkenalkan konsep bagaimana kaum tertinggal, tertindas, membangkitkan potensi yang ada. Bangkit untuk membangun sensivitas pihak-pihak yang dimarjinalkan. Saya mengajarkan agar mereka mengkeritik, orang yang melecehkan kaum papa, perempuan, petani yang lahannya dirampas oleh pemilik modal, termasuk oleh negara. Saya juga mengajarkan mereka, agar mereka paham hak dan kewajiban, seraya terus berbuat untuk kebaikan dan perubahan.

Ini jugalah yang dilakukan Peri saat ini, sampai akhirnya dia membuat buku yang Anda baca ini. Menurut Peri, saatnya Indonesia yang memiliki potensi SDA sangat besar dan market nomor 4 dunia serta teritori wilayah yang sangat strategis dimuka bumi, untuk menjadi poros baru green economics (ekonomi global).  

Kekinian situasi global, Indonesia harus segera mengintegrasikan ketahanan pangan, energi, dan air sebagai  kebijakan strategi nasional dengan memanfaatkan letak teritori wilayah yang sangat strategis di muka bumi. Agar ke depannya Indonesia  mampu menciptakan transformasi ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan di tengah isu krisis ekonomi, keuangan, pangan, dalam potensi perang dunia  karena "ego centris kawasan". ***

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow