Kyai Masduki Fadly Luruskan Isu: Iuran Haflah Bukan Pungli, Ada Solusi Bagi yang Tak Mampu
RAHMADNEWS.COM | PEKANBARU - Menyikapi isu yang belakangan ini berkembang di tengah masyarakat terkait dugaan adanya pungutan liar (pungli) dalam kegiatan haflah akhirussanah atau perpisahan siswa, Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) Aulia Cendekia Pekanbaru, Kyai Masduki Fadly, S.Sos.I, akhirnya memberikan klarifikasi tegas. Ia menyatakan bahwa tudingan tersebut tidak berdasar dan berpotensi menyesatkan persepsi publik terhadap lembaga pendidikan yang ia pimpin.
Dalam pernyataan resminya, Kyai Masduki menegaskan bahwa iuran haflah yang ditarik dari wali murid bukanlah pungutan ilegal, melainkan bentuk partisipasi sukarela yang telah menjadi bagian dari tradisi tahunan pesantren. “Iuran itu bukan pungli, tapi bagian dari pelaksanaan acara haflah akhirussanah yang kami gelar setiap tahun. Ini sudah menjadi budaya akademik dan spiritual kami sebagai bentuk penghormatan terhadap para santri yang telah menyelesaikan masa belajar mereka di pesantren,” jelasnya.
Acara haflah tersebut, lanjut Kyai Masduki, berlangsung selama dua hari dan biasanya menghadirkan tokoh-tokoh masyarakat, pejabat pemerintahan, serta para ulama dari berbagai organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Kehadiran mereka menjadi simbol dukungan moral terhadap pendidikan Islam yang berkelanjutan.
Lebih jauh, Kyai Masduki menjabarkan bahwa dana yang dihimpun dari wali murid tidak hanya diperuntukkan bagi penyelenggaraan acara, melainkan juga untuk kebutuhan lainnya yang bersifat opsional. “Sebagian dana digunakan untuk setelan pakaian acara yang bisa dibawa pulang oleh siswa, serta pembuatan souvenir kenang-kenangan kepada guru. Dan ini hanya berlaku bagi yang mampu. Tidak ada kewajiban mutlak bagi semua siswa untuk ikut dalam pengeluaran tersebut,” katanya.
Pihak pesantren juga telah mengantisipasi kemungkinan adanya siswa dari keluarga kurang mampu. Dalam rapat resmi bersama wali murid pada Senin, 19 Mei 2025, Kyai Masduki secara terbuka menyampaikan bahwa pihaknya menyediakan solusi kebijakan khusus bagi mereka yang tidak dapat memenuhi iuran tersebut.
“Saya katakan langsung di forum, jika ada wali murid yang merasa kesulitan membayar, silakan datang ke kantor. Kami terbuka untuk memberikan bantuan dan tidak akan ada diskriminasi. Ini soal kepedulian, bukan paksaan,” tegasnya, menghilangkan kekhawatiran adanya tekanan bagi siswa kurang mampu.
Kyai Masduki juga menyayangkan beredarnya informasi yang tidak utuh di media sosial, yang menyudutkan pesantren dan seolah-olah membenarkan adanya pungutan yang tidak transparan. Ia menekankan bahwa semua kegiatan dan penggalangan dana selalu dibahas dalam forum resmi bersama perwakilan wali murid.
“Kami bukan lembaga yang otoriter. Semua kegiatan selalu dibicarakan dan disetujui bersama dalam rapat. Kalau ada ketidakpuasan, pintu dialog selalu terbuka,” ujarnya lagi, menepis tudingan sepihak yang bisa merusak citra pondok pesantren.
Mengakhiri pernyataannya, Kyai Masduki mengajak seluruh masyarakat untuk bijak menyikapi informasi yang beredar. Ia berharap masyarakat tetap menjaga semangat kebersamaan dan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan yang telah puluhan tahun konsisten dalam membina generasi muda yang Islami dan berakhlakul karimah.
“Menjaga nama baik lembaga pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama. Jangan biarkan opini yang tidak berdasar merusak kepercayaan yang telah lama dibangun dengan tulus,” tutup Kyai Masduki.
Dengan klarifikasi ini, diharapkan isu yang sempat meresahkan masyarakat dapat diredam dan kepercayaan publik terhadap Ponpes Aulia Cendekia Pekanbaru tetap terjaga sebagai lembaga yang amanah, terbuka, profesional, dan peduli terhadap seluruh lapisan masyarakat.**
Liputan : Ricky Sambari
Editor : Rahmat Handayani
(Redaksi/RH)
What's Your Reaction?




