Banyak Bansos Melenceng Sasaran, Karang Taruna Mentangor Soroti Kekacauan Data

Nov 26, 2025 - 04:01
 0  52
Banyak Bansos Melenceng Sasaran, Karang Taruna Mentangor Soroti Kekacauan Data

RAHMADNEWS.COM | PEKANBARU – Kekacauan data penerima bantuan sosial kembali mencuat. Di sejumlah titik di Kelurahan Mentangor, masih ditemukan warga mampu menerima bansos, sementara keluarga yang benar-benar membutuhkan justru terabaikan. 

Kondisi ini terungkap setelah Ketua Karang Taruna Kelurahan Mentangor, Jefri Fernandes, melakukan pengecekan langsung ke lapangan pada Selasa (25/11/2025).

“Kita turun langsung dan melihat sendiri ketidaktepatan sasaran yang terjadi. Ini bukan isu baru, tapi fenomena yang terus berulang,” ujar Jefri.

Menurutnya, inilah salah satu alasan pemerintah menerbitkan Inpres Nomor 4 Tahun 2025, yang menetapkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai acuan utama penyaluran bansos, menggantikan DTKS yang dinilai tidak lagi relevan.

“Inpres ini hadir karena persoalan data yang tidak akurat sudah dirasakan masyarakat di mana-mana,” kata Jefri.

Kementerian Sosial sebelumnya mencatat data yang disusun Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyebut sejumlah subsidi dan bansos terindikasi tidak tepat sasaran. Bahkan anggaran bantuan sosial dan subsidi mencapai lebih dari Rp 500 triliun pun tak sepenuhnya mengalir kepada kelompok yang berhak.

“Bayangkan, dari ratusan triliun anggaran yang disalurkan melalui APBN, masih ditemukan penerima yang tidak tepat sasaran,” kata Jefri mengutip keterangan Menteri Sosial.

Menyikapi keluhan warga, Kemensos meminta Karang Taruna mengambil peran lebih aktif dalam pemutakhiran data penerima bansos. Jefri menegaskan Karang Taruna tidak boleh hanya menjadi pelengkap dalam acara seremonial, tetapi harus dilibatkan pada tahap pendataan di tingkat RT/RW.

“Banyak kritik soal data yang dinilai tidak akurat. Karena itu, Karang Taruna harus ikut turun langsung melakukan pendataan warga yang memang berhak menerima bantuan,” tegasnya.

Menurut Jefri, kasus salah sasaran di lapangan masih kerap ditemukan. Ada warga mampu yang menerima bansos, sementara keluarga kurang mampu justru tidak tersentuh bantuan. Ia juga menyoroti adanya dugaan kedekatan keluarga antara penerima dengan perangkat lingkungan.

“Warga sering mengadu, ada saudaranya atau tetangganya yang tidak dapat bantuan, sedangkan orang yang berkecukupan malah menerima. Kadang ada kaitannya dengan hubungan kekerabatan dengan RT atau RW,” tuturnya.

Jefri menyebut langkah ini menjadi “jihad pertama Karang Taruna” dalam memperbaiki data sosial di tingkat akar rumput. Ia menegaskan data penerima bansos bersifat dinamis dan harus diperbarui secara berkelanjutan.

“Setiap hari ada yang pindah, lahir, meninggal, atau menikah. Data itu harus selalu diperbarui,” tutupnya.**

Liputan  :  Jefri Fernandes

(RS/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow