Balita Asal Sukabumi Meninggal Dunia Akibat Infeksi Cacing

Aug 20, 2025 - 04:09
 0  33
Balita Asal Sukabumi Meninggal Dunia Akibat Infeksi Cacing
Ilustrasi tubuh penuh cacing

RAHMADNEWS.COM | SUKABUMI - Seorang balita perempuan berinisial R, asal Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, meninggal dunia setelah tubuhnya dipenuhi cacing. Kasus langka ini terjadi usai R menjalani perawatan di RSUD Syamsudin, Kota Sukabumi.

R pertama kali masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Syamsudin pada Minggu, 13 Juli 2025, sekitar pukul 20.00 WIB. Saat tiba, kondisinya sudah tidak sadar sejak sehari sebelumnya.

“Pasien datang dibawa keluarga dan tim pengantar dalam keadaan tidak sadar. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan syok atau kekurangan cairan berat,” kata dr. Irfan, Humas sekaligus dokter IGD RSUD Syamsudin, kepada detikJabar, Selasa (19/8).

Meski kondisi syok dapat diatasi, penurunan kesadaran R belum diketahui penyebab pastinya. Namun, momen mengejutkan terjadi saat balita tersebut berada di IGD.

“Saat di IGD, tiba-tiba keluar cacing dari hidung pasien. Dari situ, kita mulai menduga ada kaitannya dengan infeksi cacing,” ujar Irfan.

Setelah kondisinya stabil, R dirujuk ke ruang PICU untuk mendapat penanganan intensif anak. Hasil pemeriksaan menunjukkan ia menderita askariasis, yakni infeksi akibat cacing gelang Ascaris lumbricoides. Cacing jenis ini biasanya hidup di tanah dan dapat masuk ke tubuh manusia melalui makanan, minuman, maupun tangan yang kotor.

Telur cacing menetas di usus, berkembang menjadi larva, lalu menyebar melalui aliran darah hingga ke organ-organ vital, termasuk otak. Kondisi inilah yang menyebabkan R tidak kunjung sadar.

“Biasanya larva cacing ditemukan di paru-paru, makanya bisa keluar lewat saluran pernapasan. Karena pasien dalam keadaan tidak sadar, cacing bisa bergerak bebas, bahkan keluar melalui hidung maupun saluran pencernaan. Sarang utamanya jelas di usus,” jelas Irfan.

Faktor lingkungan disebut turut memengaruhi kondisi R. Ia tinggal di rumah panggung sederhana dengan tanah terbuka di bawahnya. “Sepertinya pasien sering bermain di tanah tanpa alas kaki. Itu memperbesar risiko infeksi,” tambahnya.

Selain infeksi cacing, R juga diduga mengalami komplikasi lain berupa meningitis tuberkulosis. Hal ini karena orang tuanya diketahui sedang menjalani pengobatan TBC paru.

“Jadi kemungkinan besar kombinasi antara infeksi cacing dan TBC yang memperparah kondisinya,” kata Irfan.

Sayangnya, meski telah diberikan obat cacing, upaya medis tak mampu menyelamatkan R. Kondisi kritis sejak awal membuat pengobatan tidak efektif. “R dibawa ke rumah sakit sudah dalam kondisi terminal. Obat yang diberikan tidak bisa bekerja maksimal. Pada akhirnya, R meninggal dunia pada 22 Juli 2025 pukul 14.24 WIB,” tutur Irfan.

Kerabat korban, Edah (40), membenarkan bahwa ia menjadi saksi ketika cacing keluar dari tubuh R saat berada di IGD. “Iya, saya lihat sendiri ada cacing keluar dari hidung, panjangnya sekitar 15 sentimeter. Awalnya saya kira itu alat dari rumah sakit, ternyata bukan,” ungkapnya.

Kasus ini menjadi peringatan penting bagi masyarakat mengenai bahaya infeksi cacing, yang meski umum ditemukan, dapat berakibat fatal bila terlambat ditangani dan ditambah dengan komplikasi penyakit lain.**

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow