AKMR Bangun Konsep “Seniman Botani”, Dorong Perpaduan Seni dan Ekologi Berbasis Budaya Melayu Riau

May 29, 2025 - 14:42
 0  30
AKMR Bangun Konsep “Seniman Botani”, Dorong Perpaduan Seni dan Ekologi Berbasis Budaya Melayu Riau
Direktur AKMR, Dr. Muhammad Syafi’i, S.Pd, M.Si

RAHMADNEWS. COM | PEKANBARU — Istilah Seniman Botani atau Botanical Artist mungkin terdengar asing di telinga masyarakat Indonesia. Namun sejatinya, bentuk seni ini sudah lama hidup berdampingan dalam budaya lokal, meski tidak secara eksplisit disebut demikian.

Jejak seni botani dapat dijumpai dalam berbagai aspek kesenian Nusantara seperti motif-motif pada anyaman, tenunan, bahkan tekstil tradisional. Selain itu, dalam tarian dan musik yang ditampilkan saat upacara panen di sejumlah daerah, unsur flora lokal menjadi inspirasi utama—sebuah ciri khas dari praktik seni botani.

Secara global, seni botani telah dikenal dan berkembang di setidaknya 28 negara. Botanical Artist merupakan seniman yang menjadikan dunia tumbuhan sebagai sumber inspirasi sekaligus objek dalam penciptaan karya seni. Mereka memainkan peran penting dalam mendokumentasikan keragaman flora dunia secara visual, dengan pendekatan ilmiah dan estetika sekaligus.

Beberapa nama besar dalam dunia seni botani dunia di antaranya adalah Maria Sibylla Merian, seniman asal Jerman yang terkenal dengan ilustrasi ilmiahnya tentang serangga dan siklus hidupnya yang berkaitan dengan tumbuhan. Ada juga James Andrews, pelukis dan pengajar seni botani asal Inggris yang dikenal karena karya-karya ilustrasi bunganya yang indah dan detail.

Sementara itu di Indonesia, nama Eunike Nugroho mencuat sebagai seniman botani yang telah membawa nama bangsa ke kancah internasional melalui pameran-pameran baik tunggal maupun kolektif di dalam dan luar negeri. Ia menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam bidang ini, terlebih dengan kekayaan hayati yang melimpah.

Menariknya, konsep seni botani kini menjadi visi dan misi baru dari Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Kampus seni yang menjadi kebanggaan masyarakat Riau tersebut mengusung pendekatan integratif antara seni, ekologi, dan budaya Melayu dalam setiap lini pendidikannya.

Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur AKMR, Dr. Muhammad Syafi’i, S.Pd, M.Si dalam kegiatan perdana kampus yang berlangsung di Jalan HR. Soebrantas, Panam, Pekanbaru.

“Kita akan bangun konsep Seniman Botani ke depan. Nantikan saja gebrakan dan inovasi dari kampus AKMR. Dan bagi yang serius ingin mendalami konsep ini, ayo bergabung menjadi mahasiswa baru kami,” ujar Syafi’i.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa konsep seniman botani yang dikembangkan AKMR akan berbasis Budaya Melayu Riau, menjadikannya unik dan kontekstual dengan identitas daerah.

Dr. Muhammad Syafi’i sendiri bukan sosok asing di dunia pendidikan Riau. Pria kelahiran Pekanbaru, 5 Februari 1981, berdarah Melayu Pelalawan dan Belakang Padang, Batam, Kepulauan Riau ini dikenal sebagai tokoh pendidikan yang telah banyak berkontribusi dalam pengembangan institusi pendidikan vokasi dan seni.

Ia merupakan lulusan pendidikan vokasi di Inwent Frankfurt, Jerman, dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolah SMKN 1 Pangkalan Kerinci, Direktur Akademi Komunitas Negeri Pelalawan (AKNP), hingga Rektor Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan (ITP2I).

Jabatan terakhirnya sebelum memimpin AKMR adalah sebagai Direktur Badan Pengelola Usaha (BPU) Universitas Riau, dan ia juga pernah mencatat sejarah sebagai Ketua PGRI Provinsi termuda se-Indonesia.

Dengan pengalaman dan jejaring yang dimiliki, Syafi’i optimistis membawa AKMR menjadi pelopor seni botani berbasis budaya lokal pertama di Indonesia. Ia berharap, pendekatan baru ini tidak hanya mendorong perkembangan seni di Riau, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis generasi muda terhadap pentingnya menjaga alam lewat seni.

“Kami yakin, perpaduan antara seni, ekologi, dan budaya lokal akan menciptakan karya yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menginspirasi dunia untuk lebih peduli pada lingkungan,” tutupnya.

Dengan gebrakan ini, AKMR diyakini akan menjadi episentrum baru perkembangan seni dan pendidikan berbasis nilai-nilai lokal di Tanah Melayu Riau. ***

 

Editor  :  Ricky Sambari

(Redaksi/RH) 

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow